Kondisi jalan yang sempit dan padatnya pejalan kaki menjadi kendala. Tapi kami terus berupaya memberikan pelayanan terbaik,” jelasnya.
Terkait istilah “booking” yang sempat beredar, Andi menegaskan bahwa hal tersebut bukan berarti adanya pembayaran.
“Tidak ada istilah booking berbayar. Kadang ada guide yang membantu menunjukkan lokasi penumpang, tapi itu sering disalahartikan oleh masyarakat. Kami luruskan, layanan ini tetap gratis,” tegasnya.
Hal senada disampaikan salah satu sopir shuttle, Heryana. Ia mengaku selalu memastikan tujuan penumpang sebelum berangkat serta menjelaskan bahwa layanan tersebut merupakan program pemerintah.
“Sebelum jalan, saya selalu tanya tujuan penumpang. Bahkan banyak yang bertanya ini program siapa, saya jawab ini program Pemda Pangandaran dan masih tahap uji coba,” ungkap Heryana.
Menurutnya, sebagian besar wisatawan mendukung program shuttle ini karena dinilai efektif mengurangi kemacetan di kawasan wisata.
“Banyak yang setuju program ini dilanjutkan. Memang keluhan ada, terutama saat jam checkout sekitar pukul 12 siang karena kondisi jadi padat,” tambahnya.
Pemda Pangandaran berharap masyarakat dan wisatawan tidak salah memahami informasi yang beredar, serta dapat mendukung program shuttle gratis ini sebagai upaya menciptakan kenyamanan dan kelancaran arus wisata.

