Sementara Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Diky Candra, menilai kegiatan olahraga seperti ini penting sebagai ruang ekspresi anak muda.
“Anak muda itu adrenalinnya tinggi dan butuh pengakuan. Kalau disediakan ruang kreatif seperti ini, bisa meminimalisir kenakalan remaja,” tuturnya.
Menurut Diky, event olahraga bukan hanya soal pertandingan, tetapi juga bagian dari menjaga kondusivitas Kota Tasikmalaya.
“Kegiatan positif, rekreatif, dan prestasi akan mengurangi kemungkinan anak-anak melakukan hal buruk. Acara seperti ini harus diperbanyak.
Ia mengakui dukungan pemerintah masih terbatas karena efisiensi anggaran, namun tetap mendorong kolaborasi dengan berbagai pihak.
“Kami support dengan kehadiran dan mendorong stakeholder, termasuk CSR. Tasikmalaya ini kota event, selain kota santri,” katanya.
Diky juga melihat potensi ekonomi dari penyelenggaraan event olahraga.
“Kalau berkembang sampai Jawa Barat atau nasional, orang datang ke sini, makan di sini, wisata di sini. Ini jadi potensi ekonomi baru,” tukasnya.
Ia berharap Kota Tasikmalaya semakin dikenal sebagai kota yang ramah event olahraga, seni, dan budaya.
“Ini bukan sekadar hiburan. Ada unsur perlindungan budaya, mengolahragakan masyarakat, dan mendorong prestasi. Semoga Tasikmalaya selalu jadi tuan rumah yang aman, tentram, dan toleran.
” Ekshibisi Tarung Lagga Striking ini sekaligus memperkuat citra Kota Tasikmalaya sebagai ruang pembinaan anak muda melalui olahraga prestasi, bukan jalanan,”paparnya.

