Langkah Menteri Luar Negeri RI ini juga mencerminkan pendekatan diplomasi yang adaptif terhadap perubahan zaman. Diplomasi tidak lagi sekadar seremoni, melainkan instrumen strategis untuk memastikan Indonesia tetap memiliki ruang manuver yang luas di tengah persaingan global. Dengan memperkuat komunikasi dan kerja sama dengan mitra strategis seperti Turkiye, Indonesia menjaga kepentingan nasionalnya tanpa harus terjebak dalam rivalitas global yang tajam.
Baca Juga:Dorong Efisiensi Anggaran, Pemkab Purwakarta Terapkan FWA Setiap Kamis
Bagi diaspora Indonesia di luar negeri, khususnya di Turkiye, kunjungan ini memberikan pesan kuat bahwa negara hadir dan aktif membangun posisi Indonesia di dunia internasional. Diplomasi yang dijalankan tidak hanya berdampak pada hubungan antarnegara, tetapi juga memperkuat rasa percaya diri diaspora sebagai bagian dari bangsa yang diperhitungkan secara global.
Ke depan, diplomasi Indonesia di bawah kepemimpinan Menteri Luar Negeri Sugiono diharapkan terus mengedepankan prinsip kehati-hatian, kepentingan nasional, dan kontribusi positif bagi stabilitas global. Di tengah dunia yang bergejolak, Indonesia memilih jalur diplomasi yang cerdas: tidak gaduh, tidak reaktif, tetapi tetap berpengaruh. Inilah wajah diplomasi Indonesia yang patut diapresiasi dan diperkuat.(**)

