Seorang ekonom kritis, Ha-Joon Chang, dalam bukunya 23 Things They Don’t Tell You About Capitalism, menulis: ”The financial sector is supposed to lubricate the wheels of capitalism, not become the wheel itself.”Sektor keuangan, katanya, seharusnya jadi pelumas ekonomi. Bukan menjadi roda utama yang menggiling habis masyarakat kecil.
Baca Juga:Bupati Subang Dikukuhkan sebagai Panglima Santri pada Peringatan Hari Santri Nasional 2025
Ironi dan Perlawanan.
Maka, warung kopi rakyat itu sesungguhnya adalah universitas jalanan. Dari sana lahir kesadaran baru: bahwa perbankan bukan sekadar lembaga pinjam- meminjam, melainkan simbol kapitalisme yang terus menghisap.
Bank ibarat istana kaca yang berdiri kokoh di pusat kota, dengan lampu terang dan pendingin ruangan. Tapi di balik kaca itu, ada ribuan rakyat kecil yang ditolak masuk. Ada buruh yang tak sanggup membayar cicilan motornya. Ada pedagang kecil yang terganjal syarat modal. Ada petani yang tanahnya dilelang.
Dalam suasana itu, seruan seorang tokoh sosialis Indonesia, Tan Malaka, terasa relevan: ”Sistem kapitalisme bukan hanya menindas, tapi juga menipu dengan harapan palsu.”
Baca Juga:Polres Purwakarta Ungkap Kasus Pembunuhan Karyawati Minimarket
Esai ini bukan sekadar keluh kesah rakyat kecil. Ia adalah pengingat bahwa sistem perbankan, dengan segala modernitasnya, pada akhirnya masih meneguhkan logika lama, menguntungkan yang kaya, mengorbankan yang miskin.
Jika Marx berbicara tentang vampir, mungkin di Subang, rakyat kecil lebih suka menyebut bank sebagai “lintah darat berjas rapi”.
Dan di warung kopi itu, sambil menyeruput pahit kopi dan menggigit gorengan, mereka sadar pahitnya kopi bisa segera hilang dengan gula, tapi pahitnya kapitalisme perbankan masih terus melekat di tenggorokan rakyat.
Pemerintah harus turun tangan menangani persoalan ini, Pemerintahan Desa sebagai perpanjangan eksekutif, harus diberikan peran untuk membasmi para lintah darat yang berbalut koperasi ataupun lembaga keuangan jenis lainnya.

