“Kami tidak mendaftarkan ijazah ini ke KPU sebagai syarat menjadi pejabat publik untuk dipilih rakyat. Kami pikir ini satir yang serius karena pengunjung banyak yang ngantri untuk mendapatkannya. Itu artinya, mereka bersama kami,” ungkap Acep.
Salah satu pengunjung yang mendapatkan dan membeli ijazah palsu itu adalah Iwan Pirous. Anak dari pencetus Pasar Seni ITB, A.D. Pirous ini mengatakan bahwa ijazah adalah bentuk simbolik kapital yang lebih tinggi dari uang.
“Orang akan silau dengan ijazah. Tidak akan tahu apakah itu palsu atau asli. Tapi menurut saya, ijazah ini bukanlah ijazah palsu. Karena orang yang menandatangani itu asli ada,” ujar Iwan Pirous.
Baca Juga:Razia Gabungan, KPPBC TMP-A Bogor-Satpol PP Sukabumi Sita Sebanyak 14.848 Batang Rokok Ilegal
Sementara itu terdengar dari beberapa pengunjung lainnya berkelakar mengenai ijazah yang mereka baru dapatkan dari stan KKLBV ini. “Kalau saya beli, bisa jadi presiden ga?” ujar salah satu pengunjung.
Setelah mendapatkan ijazah, pengunjung dapat difoto dan berpose menggunakan toga layaknya wisudawan, lengkap dengan selempang bertuliskan “Doktor Sehari” atau “Profesor Sehari”.
Tidak hanya orang tua, anak kecil pun turut berpartisipasi untuk mendapatkan ijazah serta foto wisuda. “Belum sekolah sudah jadi doktor. Semoga manifesting bisa bersekolah sampai doktor di ITB,” harap orang tua yang mengantar anaknya ke Pasar Seni ITB itu.

