Tujuannya jelas, mengurangi volume sampah yang dibuang ke Tempat Pembuangan Sampah Sementara (TPS) maupun Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Warga diajak memilah sampah dari rumah. Sampah anorganik ditabung, sementara sampah organik diolah lebih lanjut.
Seiring waktu, Bank Sampah Ciherang Tunas Mulia terus berkembang. Tak hanya berhenti di pemilahan, bank sampah ini sudah memproduksi eco enzyme dari sampah organik dan mengembangkan budidaya magot sebagai pengurai sekaligus pakan ternak. Nilai tambah itu membuat warga makin antusias menabung sampah.
Kini, gerakan tersebut menular. Di Kelurahan Ciherang sudah berdiri enam bank sampah yang tersebar di enam RW dengan nama yang sama.
Model replikasi ini membuat dampak pengurangan sampah terasa lebih luas.
Baca Juga:Tekankan Kolaborasi dan Peran Masyarakat, Bupati Ciamis Buka Musrenbang RKPD 2027
Kami sangat mengapresiasi perhatian Pemerintah Kota Tasikmalaya yang mulai turun langsung ke lapangan. Wakil Wali Kota Tasikmalaya sempat berkunjung ke lokasi untuk melihat proses pengelolaan sekaligus berdiskusi soal pengembangan bank sampah ke depan.
Kami apresiasi kepedulian pemerintah. Kunjungan itu jadi penyemangat agar bank sampah bisa berkembang lebih luas lagi.
“Permasalahan sampah bukan hanya tanggung jawab pemerintah dan DLH, tapi juga tanggung jawab kita semua yang menghasilkan sampah,”pungkasnya.

