Materi di kelas kami aktualisasikan di lapangan. Siswa belajar proses budidaya secara langsung sehingga memahami tantangan dan peluang usaha.
Adapun untuk kelas IX, sekolah menerapkan Proyek Integrasi yang lebih menekankan pada kemampuan analisis dan pemecahan masalah sosial. Siswa putra melakukan observasi ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) untuk mengkaji persoalan pengelolaan sampah di Kota Tasikmalaya.
Kami ingin menumbuhkan kesadaran lingkungan. Siswa melihat langsung kondisi di lapangan, mulai dari TPS hingga TPA, lalu menganalisis permasalahan dan mencari solusi.
Sedangkan siswa putri melakukan observasi di kawasan Dadaha, yang dikenal sebagai pusat olahraga dan aktivitas masyarakat. Mereka memetakan berbagai persoalan yang ditemukan di lapangan, kemudian melakukan wawancara, mencari referensi artikel dan jurnal, hingga menyusun rekomendasi solusi.
Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung selama dua pekan, dimulai sejak 2 Februari 2026 dan mencapai puncaknya pada 12 Februari 2026 melalui pameran dan presentasi hasil proyek.
Kepala Bidang SMP Dinas Pendidikan Kota Tasikmalaya, Dani, mengapresiasi pelaksanaan PBL di SMP IT Ihya Asunah.
Menurutnya, program tersebut dapat menjadi percontohan bagi sekolah lain. “Sekolah harus membawa siswa masuk ke lingkungan masyarakat. Dengan begitu, mereka akan lebih siap dan tidak canggung ketika nantinya terjun langsung ke kehidupan sosial setelah menyelesaikan pendidikan,” ungkapnya.
Ia menegaskan, pembelajaran di dalam dan di luar sekolah harus berjalan selaras agar siswa memiliki kesiapan akademik sekaligus pengalaman sosial.
“Kami mendukung penuh kegiatan ini dan berharap SMP IT Ihya Asunah bisa menjadi pionir bagi sekolah lain dalam menerapkan pembelajaran berbasis proyek,”pungkasnya

