Ia menegaskan, para perempuan tampil sebagai pilar utama di balik kelancaran kegiatan. Mereka sadar, karena pembangunan dilakukan murni dari swadaya masyarakat, setiap peran sekecil apa pun menjadi sangat berarti.
“Pengecoran jalan ini bukan sekadar membangun akses fisik menuju pesantren, tetapi juga menegaskan kuatnya solidaritas warga Sindanghayu,” ungkapnya.
Dikatakan Hj. Ida Rohaeni, ketika dana terbatas dan perhatian pemerintah belum hadir, perempuan mengambil peran strategis dari belakang layar.
Baca Juga:Bupati Subang Hadiri Peringatan Hari Amal Bhakti Ke-80 Kemenag Subang
“Dari sajian sederhana yang mereka hidangkan, mengalir semangat besar untuk masa depan pesantren dan generasi yang menuntut ilmu di dalamnya,”tandasnya.(Herman).

