Benteng Ekonomi Nelayan Pesisir!
Selama 14 tahun memimpin, Jeje menegaskan, bahwa koperasi harus menjadi benteng ekonomi bagi masyarakat pesisir yang rentan terhadap fluktuasi harga dan cuaca.
Ia mencontohkan harga ikan kerap melonjak tajam menjelang Lebaran. Ikan kuer misalnya, yang biasanya hanya sekitar Rp4.000 per kilogram, bisa melambung hingga hampir Rp14.000 per kilogram karena kelangkaan pasokan.
“Di tengah ketidakpastian harga pasar, koperasi hadir untuk menjaga stabilitas ekonomi anggota,” tegasnya.
Koperasi dengan Jaring Pengaman Sosial!
Tak hanya berfungsi sebagai lembaga ekonomi, juga membangun sistem perlindungan sosial bagi para anggotanya.
Beberapa program yang dijalankan antara lain:
1. Santunan kematian hingga Rp10 juta bagi anggota yang meninggal dunia.
2. Beasiswa pendidikan Rp5 juta bagi anak nelayan yang melanjutkan ke perguruan tinggi.
“Walaupun saldo simpanan anggota mungkin hanya Rp100 ribu, manfaat sosial yang mereka terima jauh lebih besar. Semua ini kami kelola secara sehat tanpa utang,” ujar Jeje.
Ia berharap sistem “Cengcelengan” yang diterapkan koperasi di Pangandaran dapat menjadi inspirasi bagi koperasi-koperasi lain di Indonesia, sebagai model nyata bagaimana ekonomi kerakyatan mampu melindungi masyarakat kecil, terutama mereka yang menggantungkan hidup pada laut yang penuh risiko.
Di tengah gelombang ketidakpastian, tabungan sederhana itu kini menjelma menjadi jaring pengaman ekonomi bagi ratusan keluarga nelayan.

