“Gerakan zapin yang sopan dan beradab mencerminkan karakter masyarakat Melayu yang menjunjung tinggi adab dan etika. Dimulai dari gerakan Alif, Sut, hingga Wainab. Kalau kita perhatikan zapin Riau ini tak ada yang mengangkat tangan terlalu tinggi, karena itulah menjaga betul tata kramanya,” ungkapnya.
Sementara itu, Dewan Pimpinan Harian (DPH) LAM Riau, Datuk Seri Taufik Ikram Jamil, menerangkan bahwa pelestarian Zapin telah menjadi perhatian serius pihaknya. Satu diantara jalur utama yang ditempuh adalah melalui dunia pendidikan, bekerja sama dengan dinas-dinas terkait.
“Kami telah memberikan masukan kebudayaan di kurikulum pendidikan, sebagaimana diatur dalam peraturan daerah. Tari Zapin menjadi salah satu unsur budaya yang terus didorong masuk dalam muatan lokal di sekolah-sekolah,” terangnya.
Dituturkan, langkah ini diyakini mampu menanamkan kecintaan terhadap Zapin sejak dini. Generasi muda tidak hanya mengenal tarian ini sebagai tontonan, tetapi juga bagian dari identitas diri mereka sebagai generasi Melayu.
“Jadi didalam tari zapin itu sudah rangkum banyak budaya Melayu Riau. Seperti dari alat musik melayu, baju kebaya labuh kekek dan cekak musang, hingga gerak tarian itu sendiri. Sehingga, anak-anak zaman sekarang bisa belajar dan mengetahuinya mulai dari sekolahan.” tuturnya.(Suber Media Center Riau).

