Untuk itu, strategi utama ke depan adalah intensifikasi literasi dan sosialisasi melalui berbagai kanal, termasuk bermitra dengan ormas keagamaan, tokoh masyarakat, dan media.
Penyaluran Berdampak: Dari Konsumtif Menuju Produktif
Baznas Jabar mengalokasikan dana ZIS pada dua koridor utama penyaluran:
1. Bantuan Langsung (Konsumsi & Darurat): Untuk memenuhi kebutuhan dasar mustahik (penerima zakat) dan tanggap darurat bencana, seperti yang dilakukan untuk korban banjir di Aceh.
2. Zakat Produktif (Pemberdayaan): Ini menjadi prioritas untuk menciptakan dampak berkelanjutan dan memutus mata rantai kemiskinan.
“Target kami adalah mengubah mustahik (penerima) menjadi muzaki (pemberi),” ungkap Ujang.
Program Zakat Produktif mencakup:
•Bantuan Modal Usaha: Seperti untuk pedagang gorengan atau warung, dilengkapi pendampingan UMKM.
•Beasiswa Pendidikan: Membiayai pendidikan anak-anak dari keluarga kurang mampu.
•{Bantuan Kesehatan: Mendukung akses layanan kesehatan bagi mustahik.
Program-program ini diselaraskan dengan peta jalan pengentasan kemiskinan Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk memastikan tepat sasaran dan sinergis.
Baca Juga:Tutup Turnamen Final Bupati Cup U-17, Kang Rey: Dorong Lahirnya Generasi Pesepakbola Baru
Menuju Zakat Sebagai Kekuatan Pembangunan
Ujang Faisal menutup paparannya dengan pesan yang menggugah. Ia menegaskan bahwa zakat yang dikelola secara baik, transparan, dan akuntabel dapat menjadi kekuatan besar dalam pembangunan sosial-ekonomi.
“Zakat itu bukan hanya kewajiban agama, tetapi harus menjadi instrumen solusi sosial. Jika APBD dan APBN adalah perangkat pembangunan negara, maka dana ZIS yang terhimpun di Baznas adalah perangkat untuk mendukung program-program pemerintah, khususnya dalam mengatasi kemiskinan,” pungkasnya.
Dengan komitmen pada transparansi, inovasi layanan, dan program pemberdayaan yang strategis, Baznas Jabar berupaya mendorong realisasi potensi ZIS yang masih sangat besar, mengubahnya dari sekadar angka potensi menjadi kekuatan nyata untuk kesejahteraan masyarakat. (*)

