Wali Kota Didampingi Wawalkot dan Sekda Kota Tasik Hadiri Koordinasi dan Evaluasi Bersama Forkopimda dan Dinas Terkait BGN

Kalau anak-anak lebih siap belajar, kualitas manusianya ikut naik. Kalau dapur-dapur MBG memakai bahan pangan lokal dan menggandeng UMKM, ekonomi warga ikut bergerak. Jadi program ini bukan beban, tetapi investasi sosial yang hasilnya akan kembali ke kota ini sendiri.

Namun saya ingin menegaskan, keberhasilan MBG tidak cukup diukur dari banyaknya makanan yang tersaji. Yang jauh lebih penting adalah mutu, kebersihan, dan keamanannya. Jangan sampai niat baik kita besar, tetapi lengah pada hal yang paling mendasar. Kita sedang memberi makan anak-anak. Maka standar kita harus tinggi. per 8 April 2026, tercatat 91 SPPG sudah dibina dan diawasi lewat inspeksi kesehatan lingkungan, 88 sedang berproses Sertifikat Laik Higiene Sanitasi, dan 56 sudah terbit SLHS. Ada juga 34 SPPG yang sudah memiliki sertifikat halal. Ini fondasi yang baik, tetapi pekerjaan kita belum selesai. Justru dari sini kita tahu, arah perbaikannya sudah jelas: semua SPPG harus terus didorong agar aman, tertib, dan patuh pada standar yang sama.

Baca Juga:Perubahan IAIT Menjadi Unitas Harus Diiringi Peningkatan Kualitas Pendidikan, Riset dan Pengabdian Masyarakat

Saya juga mengapresiasi kerja lapangan yang sudah berjalan. Jumlah penjamah makanan terlatih di Kota Tasikmalaya sudah mencapai 2.156 orang. Pengawasan pangan segar asal tumbuhan sudah menjangkau 16 SPPG, dan pengawasan pangan asal hewan sudah menyentuh 5 SPPG. Ini menunjukkan bahwa kerja kita tidak berhenti di meja rapat. Sudah ada pembinaan,sudah ada pengawasan, sudah ada gerak bersama. Tetapi justru karena program ini terus membesar, ritme pengawasannya juga arus ikut menguat. Tidak boleh longgar. Tidak boleh asal jalan. Sebab satu titik yang lemah bisa mengganggu kepercayaan publik pada seluruh ikhtiar yang sedang kita bangun.

Disinilah pentingnya nilai B2SA: beragam, bergizi, seimbang, dan aman. Saya ingin ini tidak berhenti sebagai istilah teknis. B2SA harus menjadi standar hidup sehat baru di Kota Tasikmalaya. Anak-anak kita perlu dibiasakan makan dengan pola yang benar.

Pengelola SPPG harus memastikan bahan yang masuk aman, pengolahannya bersih, penyajiannya tertib, dan gizinya terjaga. Orang tua juga perlu menjadi bagian dari gerakan ini, karena pendidikan gizi yang paling pertama tetap dimulai dari rumah. Kita juga tidak boleh lupa pada gerakan stop boros pangan.

Baca Juga:Halal bihalal PGRI Pangandaran, Perkuat Silaturahmi dan Soliditas Guru

Karena makanan yang terbuang bukan hanya rugi secara ekonomi, tetapi juga mengurangi nilai dari kerja keras banyak pihak.

Saya apresiasi karena laporan MBG Kota Tasikmalaya juga sudah menegaskan satu hal yang sangat penting, yaitu pemanfaatan bahan pangan lokal dan pelibatan pelaku UMKM. Ini harus kita jaga betul. Saya ingin dapur-dapur MBG di kota ini jangan jauh dari denyut ekonomi warganya. Sebisa mungkin sayurnya dari petani kita, telurnya dari peternak kita, bumbunya dari usaha warga kita, dan pasokannya menghidupkan pelaku ekonomi lokal kita. Jadi setiap kotak makanan yang sampai ke anak-anak, di dalamnya juga ada kerja keras petani, pelaku usaha kecil, dan keluarga-keluarga Tasikmalaya yang sedang mencari nafkah dengan jujur.

Karena itu saya pun mengajak seluruh Satgas, Forkopimda, perangkat daerah, pengelola SPPG, pelaku UMKM, dan para orang tua untuk berjalan dalam satu irama. Satgas harus tetap kuat mengawal arah kerja. Dinas teknis harus terus hadir membina dan mengawasi. Pengelola dapur harus menjaga amanah ini dengan disiplin. Pelaku UMKM harus menjaga kualitas dan kejujuran. Orang tua harus terus menanamkan kebiasaan makan yang baik di rumah. Kalau semuanya jalan bersama, insyaallah MBG di Kota Tasikmalaya tidak hanya berjalan, tetapi betul-betul memberi dampak yang terasa.

“Saya ingin menutup dengan satu keyakinan sederhana: masa depan kota ini tidak dibangun dari pidato yang panjang, tetapi dari anak-anak yang tumbuh sehat, belajar dengan tenang dan merasa dijaga oleh negaranya. Maka mari kita rawat program ini dengan kerja sama yang jujur, langkah yang rapi, dan hati yang sungguh-sungguh. Sebab ketika gizi terjaga, pendidikan menguat, dan ekonomi warga ikut bergerak, di situlah Tasikmalaya sedang menyiapkan masa depannya dengan cara yang paling nyata,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *