Pewarta:H Amir.
KOTA TASIK,HALLO BERITA ONLINE. COM-Tema hari ini berbicara tentang tata kelola RT/RW yang tangguh, aman, dan kondusif. Bagi saya, penguatan kapasitas bukan hanya soal semakin paham aturan atau administrasi. Yang lebih penting, Bapak dan Ibu semakin peka melihat keadaan sekitar, semakin peduli, serta tahu harus berkoordinasi dengan siapa ketika menemukan persoalan warga.
Saya ibaratkan begini: Pemerintah Kota bisa menyusun banyak program, tetapi kondisi tiap rumah dan tiap keluarga tidak seluruhnya terlihat dari Balai Kota. Bapak dan Ibu yang sehari-hari berada di lingkungan tahu keluarga mana yang perlu diajak bicara, dan persoalan apa yang perlu segera disampaikan kepada lurah.
Hal tersebut disampaikan Plt Asda 3 Maman R Setiadi saat membacakan sambutan tertulis Wali Kota Tasikmalaya H. Viman Alfarizi Ramadhan, ST., MBA., di kegiatan Penguatan Kapasitas Kelembagaan ARWT Kota Tasikmalaya 2026, bertempat di Rumah Makan Sambal Hejo Jalan Letjen Mashudi , Rabu (04/11/26).
Kemarin saya meninjau proses penanganan rumah tidak layak huni di kawasan Jalan Siliwangi, Kecamatan Tawang. Dari situ kita diingatkan bahwa di tengah aktivitas kota, masih ada saudara- saudara kita yang membutuhkan tempat tinggal lebih layak. Nah, kalau Bapak dan Ibu mengetahui kondisi seperti ini, jangan dibiarkan menjadi cerita dari tetangga ke tetangga saja. Sampaikan kepada lurah agar dapat didata, diperiksa, dan diteruskan melalui prosedur yang berlaku.
Baca Juga:Bahas Manajemen Talenta ASN, Sekda Subang Hadiri Expose di BKN Pusat
Pemerintah Kota terus berikhtiar melalui program perumahan dan infrastruktur dasar. Dalam bahan capaian tahun 2026 tercatat 27 rumah tidak layak huni telah direhabilitasi, sementara tersedia alokasi Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya untuk 827 unit. Saya tegaskan, angka 827 ini adalah alokasi, bukan berarti seluruh rumahnya sudah selesai. Program seperti ini perlu didukung informasi lapangan yang benar supaya penanganannya tepat sasaran.
Persoalan satu keluarga sering tidak berhenti pada kondisi rumah. Bisa saja orang tuanya sedang kesulitan ekonomi, anaknya terancam putus sekolah, atau adiknya belum mendapat pendidikan prasekolah. Karena itu, kalau kita ingin membantu warga, kita perlu melihat persoalannya secara utuh.
Pemerintah Kota saat ini juga sedang menangani Anak Tidak Sekolah, atau ATS. Dalam pemantauan internal, jumlah yang tercatat pada dashboard turun dari 7.732 anak pada 30 Januari menjadi 5.539 anak pada 2 Oktober 2026. Ini data pemantauan yang terus diverifikasi, tetapi arahnya jelas: kita ingin lebih banyak anak kembali memperoleh kesempatan belajar. Saya berharap RT/RW ikut memperhatikan jika ada anak usia sekolah di lingkungannya yang ternyata tidak bersekolah.
Coba dekati keluarganya dengan baik. Jangan langsung menilai orang tuanya tidak peduli. Mungkin ada kendala biaya, keadaan keluarga, atau persoalan lain yang belum kita ketahui. Bantu komunikasikan kepada lurah dan pihak pendidikan. RT/RW tidak harus menyelesaikan semuanya sendiri, tetapi jangan sampai ada anak yang luput dari perhatian hanya karena tidak ada yang menyampaikan kondisinya.
Baca Juga:HUT Humas Polri ke-75, Kapolres Pangandaran Tekankan Pentingnya Sinergi dengan Media

