Ragam  

Menempa Jati Diri Warisan Leluhur, Nandang Nur Fajar dan Sejarah Berdirinya Padepokan Pencak Silat Wiramandala Gelar Budi Kancana

Pewarta:Anton.

KAB TASIK,HALLO BERITA ONLINE.COM-
Berawal dari kecintaan terhadap seni bela diri, perjalanan panjang seorang aktivis yang tumbuh dari lingkungan keluarga disiplin akhirnya bermuara pada sebuah pengabdian terhadap pelestarian budaya leluhur. Padepokan Pencak Silat Wiramandala Gelar Budi Kancana hadir sebagai ruang pembinaan generasi muda, tempat nilai-nilai kesatria, kedisiplinan, dan kecintaan terhadap budaya bangsa diwariskan.

Jejak Kehidupan dan Akar Keluarga
Di balik berdirinya Padepokan Pencak Silat Wiramandala Gelar Budi Kancana, terdapat perjalanan panjang seorang pria bernama Nandang Nur Fajar, seorang aktivis sekaligus pecinta seni dan budaya yang memiliki ketertarikan mendalam terhadap dunia bela diri sejak usia dini.

Lahir dan tumbuh di lingkungan perkampungan Tasikmalaya, tepatnya Kampung Pasanggrahan, Nandang bukan berasal dari keluarga yang berlatar belakang seniman. Ia merupakan anak pertama dari enam bersaudara, terlahir dari seorang ibu yang menjalani kehidupan sebagai ibu rumah tangga dan seorang ayah dengan latar belakang keluarga yang menyimpan beragam kisah sejarah dan garis keturunan.

Dari garis keluarga ibunya, Nandang memiliki silsilah yang menurut penuturan keluarga terhubung dengan Eyang Marta, keturunan Eyang Kalepan salah satu pendiri kampung Pasanggrahan, Sementara dari garis ayahnya, terdapat kisah leluhur seorang veteran perjuangan pada masa kemerdekaan, dengan riwayat keluarga yang memiliki keterkaitan dengan lingkungan abdi dalem Solo serta hubungan kekeluargaan Batak bermarga Siahaan dari garis kakek.

Terlepas dari beragam latar belakang tersebut, lingkungan keluarga menjadi tempat pertama yang membentuk karakter dan kepribadiannya.

Baca Juga:Senang, Anak Yatim Diajak Jalan-Jalan ke Situ Panjalu Ciamis Oleh LSM PADI, Ini Bentuk Kebersamaan 

Nandang tumbuh dalam keluarga yang menerapkan pola pendidikan cukup keras, tegas, dan disiplin. Sebagai anak sulung, sejak kecil ia telah dibiasakan untuk memiliki rasa tanggung jawab, kemandirian, serta jiwa kepemimpinan. Nilai-nilai inilah yang kemudian menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya.

Mengenal Dunia Persilatan Sejak Usia Lima Tahun

Kecintaan Nandang terhadap seni bela diri tidak muncul begitu saja. Ada proses panjang yang dimulai sejak dirinya masih berusia sangat belia.

Pada usia sekitar lima tahun, sang kakek yang merupakan seorang veteran perang mulai mengenalkan dan melatihnya dalam ilmu pencak silat. Didikan tersebut menjadi pintu awal perjalanan Nandang mengenal dunia persilatan.

Ketika menjalani masa pendidikan pesantren di Pasanggrahan, ketertarikannya terhadap pencak silat semakin berkembang. Ia belajar dari sejumlah tokoh dan para sepuh setempat, di antaranya Aki Danu, Abah Memen, dan Aki Bai’n.

Dari para sesepuh inilah ia mulai mengenal bahwa pencak silat bukan sekadar keterampilan bela diri, melainkan juga bagian dari tradisi, tata krama, kedisiplinan, dan pembentukan karakter.

Baca Juga:Dulu Kumuh, Gubernur Jabar dan Bupati Subang Akhirnya Resmikan Pasir Panyileukan di Jalan Tangkuban Parahu

Memasuki usia remaja, rasa ingin tahunya terhadap dunia bela diri semakin luas. Nandang tidak hanya mendalami pencak silat, tetapi juga mempelajari sejumlah aliran dan cabang bela diri lainnya.
Ia pernah mempelajari tinju atau boxing, kemudian mendalami karate, taekwondo, hingga gulat.

Pengalaman mempelajari berbagai disiplin bela diri tersebut memberikan warna tersendiri dalam perjalanan hidupnya. Baginya, setiap cabang bela diri memiliki karakter, metode, dan nilai pembelajaran yang berbeda.

Perjalanan Aktivisme dan Dinamika Kehidupan

Perjalanan Nandang tidak selalu berada di lingkungan persilatan. Seiring bertambahnya usia, ia mulai banyak terlibat dalam berbagai kegiatan sosial, organisasi, pergerakan masyarakat, hingga aktivitas yang berkaitan dengan pemerintahan.

Baca Juga:Sosialisasi Operasi Patuh Lodaya 2026, Satlantas Polres Purwakarta Edukasi Masyarakat Lewat Radio

Pada tahun 2018, kecintaannya terhadap pencak silat sempat diwujudkan melalui pendirian sebuah padepokan pencak silat bersama Abah Tatang di kampung Cikapol Rajamandala, Namun, karena berbagai dinamika dan keterbatasan, padepokan tersebut belum dapat berjalan dalam waktu yang panjang.

Setelah itu, Nandang sempat vakum dari aktivitas pembinaan persilatan. Waktunya lebih banyak tersita untuk berbagai kegiatan organisasi dan pengabdian sosial.

Dinamika kehidupannya juga membawanya memasuki dunia politik. Pada tahun 2019, ia pernah mengikuti kontestasi pemilihan kepala desa, kemudian kembali mencoba peruntungan dalam kontestasi pemilihan legislatif pada tahun 2024.

Berbagai pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan hidupnya dalam mengenal masyarakat, memahami dinamika sosial, serta memperluas pandangan tentang kepemimpinan dan pengabdian.Namun, kecintaan terhadap seni dan budaya ternyata tidak pernah benar-benar hilang.

Paku Suci: Kembalinya Jiwa Seni dan Budaya

Menjelang akhir tahun 2024, panggilan terhadap dunia seni kembali tumbuh dalam diri Nandang.Bersama Aa Jaka Nurmala, pendiri sekaligus sesepuh Padepokan Nurmala Sumedang Larang, ia mendirikan sebuah wadah bernama Paguyuban Paku Suci di Sukaresik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *