Melalui wadah tersebut, Nandang kembali aktif terlibat dalam berbagai kegiatan seni dan budaya di tingkat lokal. Paku suci tempat berhimpun dan berkegiatan para seniman dari berbagai jenis kesenian dari berbagai daerah seperti Garut, Sumedang, Ciamis,Bandung dan Indramayu. Para seniman ini berkumpul satu bulan sekali dalam gelaran malam kaliwonan paku suci. Pengalaman ini menjadi momentum penting yang mempertemukannya kembali dengan lingkungan para pelaku seni, budayawan, serta masyarakat yang memiliki perhatian terhadap pelestarian tradisi leluhur.
Dari perjalanan tersebut, tumbuh kembali keinginan untuk menghadirkan ruang pembinaan seni bela diri yang tidak hanya mengajarkan keterampilan fisik, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kehidupan kepada generasi muda.
Agustus 2026: Kelahiran Kembali Wiramandala
Setelah melewati berbagai pengalaman dan perjalanan panjang, pada akhir Agustus 2026 Nandang Nur Fajar kembali mengambil langkah untuk mendirikan Padepokan Pencak Silat Wiramandala bersama Abah Tatang.Pendirian kembali padepokan ini bukan sekadar menghidupkan sebuah nama yang pernah ada pada tahun 2018. Lebih dari itu, langkah tersebut menjadi bentuk komitmen untuk melanjutkan kecintaan terhadap pencak silat sekaligus menjaga keberlangsungan warisan budaya leluhur. Dengan mengusung nama Padepokan Pencak Silat Wiramandala Gelar Budi Kancana, padepokan ini mulai membangun fondasi pembinaan yang berorientasi pada pendidikan karakter, kedisiplinan, seni bela diri, dan pembentukan generasi muda yang berakhlak baik.
Baca Juga:DPD FKPKBM Cianjur Perkuat Tata Kelola PKBM dan SKB, Melalui Pembinaan Serta Pendampingan Hukum
Sejak awal pendiriannya, antusiasme masyarakat terbilang besar. Tercatat sekitar 70 anak mendaftarkan diri sebagai peserta latihan. Mereka berasal dari kalangan pelajar sekolah dasar, mulai dari kelas satu hingga kelas enam.
Angka tersebut menjadi gambaran besarnya minat anak-anak untuk mengenal dan mempelajari pencak silat ketika diberikan ruang, kesempatan, serta pendampingan yang tepat.
Merintis dari Keterbatasan, Bertumbuh dengan Semangat Kebersamaan
Dalam perjalanan awalnya, Wiramandala belum memiliki tempat latihan sendiri yang permanen.Keterbatasan sarana dan prasarana tidak lantas menjadi penghalang. Kegiatan latihan untuk sementara dilaksanakan dengan memanfaatkan halaman Masjid Jami Baitul Mutaqien dan halaman Madrasah Al-Fudlola kampung Cikapol Rajamandala Kecamatan Rajapolah.
Dari tempat-tempat sederhana itulah semangat para murid mulai tumbuh. Halaman tempat ibadah dan lingkungan madrasah menjadi saksi lahirnya generasi-generasi muda yang mulai mengenal gerakan, jurus, kedisiplinan, dan tata krama seorang pesilat.
Dalam kegiatan pembinaan, Wiramandala didukung oleh tiga orang pelatih pencak silat dari Padepokan Lugay Gelar Budi Kancana.Kegiatan latihan dilaksanakan secara rutin tiga kali dalam sepekan, yakni Jumat sore, Sabtu, dan Minggu pagi.
Baca Juga:Kodim 0610/Sumedang Bersama Baznas Percepat Rehab Sebelas RTLH, Salah Satunya di Kecamatan Surian
Meski masih berada dalam tahap perintisan, semangat anak-anak untuk terus berlatih menjadi energi tersendiri bagi pengelola dan para pelatih. Mereka datang bukan hanya untuk belajar gerakan silat, tetapi juga membangun keberanian, rasa percaya diri, tanggung jawab, dan kebersamaan.Bagi Nandang, keberadaan padepokan bukan semata-mata tentang mencetak pesilat yang mampu menguasai jurus atau memenangkan pertandingan. Ada tujuan yang lebih besar, yakni membentuk manusia yang memiliki karakter, menghormati orang tua, menghargai sesama, serta memahami nilai-nilai luhur budaya bangsanya.
Melawan Lunturnya Budaya di Tengah Gempuran Era Digital
Di tengah perkembangan teknologi dan derasnya arus budaya digital, Nandang melihat adanya tantangan besar dalam menjaga kedekatan anak-anak dengan budaya tradisional.Kehadiran telepon pintar, permainan digital, dan berbagai bentuk hiburan modern telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari anak-anak. Kondisi tersebut membutuhkan perhatian bersama agar masa pertumbuhan mereka tetap diisi dengan kegiatan yang mendidik, produktif, dan membangun interaksi sosial.
Melalui Padepokan Pencak Silat Wiramandala Gelar Budi Kancana, Nandang ingin menghadirkan alternatif kegiatan positif bagi anak-anak.
Ia meyakini bahwa pencak silat dapat menjadi salah satu media pendidikan karakter sekaligus sarana untuk menumbuhkan kembali kecintaan generasi muda terhadap warisan budaya sendiri.
Baginya, pencak silat bukan hanya tentang kemampuan bertahan dan membela diri. Di dalamnya terdapat nilai kesantunan, pengendalian diri, keberanian, penghormatan kepada guru, serta tanggung jawab terhadap lingkungan.
Padepokan diharapkan menjadi tempat anak-anak belajar memahami bahwa seorang pesilat sejati bukanlah mereka yang gemar menunjukkan kekuatan, melainkan mereka yang mampu menjaga sikap, mengendalikan diri, dan memberikan manfaat bagi sesama.
Harapan dan Masa Depan Wiramandala
Nandang Nur Fajar menyadari bahwa perjalanan Wiramandala masih panjang. Pendirian kembali padepokan ini merupakan langkah awal dari sebuah cita-cita besar yang membutuhkan dukungan, kebersamaan, dan kerja keras berbagai pihak.
Ke depan, ia berharap Padepokan Pencak Silat Wiramandala Gelar Budi Kancana dapat berkembang menjadi wadah pembinaan yang lebih besar, memiliki tempat latihan permanen, serta mampu mengikuti berbagai kegiatan dan kejuaraan pencak silat di tingkat daerah maupun tingkat yang lebih tinggi.
Namun, di atas semua pencapaian tersebut, ada satu harapan utama yang ingin diwujudkan: lahirnya generasi muda yang mencintai budaya sendiri, memiliki karakter kesatria, berjiwa sosial, dan berakhlak baik.Sebab, bagi Nandang, membangun padepokan bukan hanya tentang mendirikan tempat latihan. Ada tanggung jawab moral untuk meneruskan warisan leluhur kepada generasi berikutnya.
Wiramandala bukan sekadar nama sebuah padepokan. Ia adalah perjalanan, pengabdian, dan ikhtiar untuk menjaga warisan budaya agar tidak terputus oleh perubahan zaman.
Dari halaman masjid dan madrasah yang sederhana, dari langkah-langkah kecil puluhan anak yang mulai belajar mengenal pencak silat, Nandang Nur Fajar menaruh harapan besar bahwa suatu hari nanti Wiramandala akan tumbuh menjadi bagian dari sejarah pelestarian pencak silat dan kebudayaan Sunda.
Karena sejatinya, warisan leluhur tidak cukup hanya dikenang. Ia harus dijaga, dipelajari, diamalkan, dan diwariskan kembali kepada generasi penerus. PADEPOKAN PENCAK SILAT WIRAMANDALA GELAR BUDI KANCANA
Melestarikan Budaya, Membentuk Karakter, Menempa Jiwa Kesatria.

