Warga mengaku tidak pernah dilibatkan dalam komunikasi yang memadai sejak SPPG atas nama Pak Hendrik berdiri sekitar satu tahun lalu. Keluhan telah disampaikan ke RT dan RW, namun belum ada respons yang dirasakan dari pihak kewilayahan maupun pemerintah desa/kelurahan dan kecamatan.
Warga juga mendatangi dapur SPPG untuk klarifikasi. Disebutkan ada kesepakatan perbaikan, namun setelah menunggu sekitar satu bulan, perbaikan tersebut diklaim belum terealisasi.
“Kami datang ke dapur untuk klarifikasi. Ada kesepakatan akan diperbaiki, tapi kami menunggu satu bulan tidak ada realisasi,” katanya.
Baca Juga:Sigap Bertindak, Polisi Amankan Pria Diduga Palak Warga di Minimarket Purwakarta
Dampak Musim Kemarau dan Sorotan Transparansi.
Dampak pencemaran dirasakan semakin berat saat musim kemarau. Warga menyebut limbah menyebar ke sumur dan meluap ke permukiman.
“Air hujan tidak ada, jadi limbah menyebar ke sumur dan meluap ke permukiman rumah warga. Tidak bisa dipakai mandi atau minum,” jelasnya.
Warga membantah anggapan bahwa masyarakat dapat meminta air kepada SPPG. “Tidak ada warga yang pernah mengambil. Tidak terbukti,” pungkasnya.
Warga juga menyoroti keterbukaan informasi lowongan kerja. Menurut mereka, informasi tersebut dinilai belum terbuka bagi warga RW 08, baik yang tinggal dekat maupun jauh dari lokasi.(Dadan).

