Sementara itu, Asep Tristian menegaskan pihaknya mendukung penuh program tersebut, terutama karena Kepala SMPN 50 Bandung dinilai memiliki semangat tinggi terhadap ketahanan pangan dan lingkungan.
“Kadang kalau masuk ke sekolah, lahannya ada tetapi semangatnya hanya sehari. Habis itu diam. Di SMPN 50 ini berbeda, Pak Kepala Sekolahnya sangat konsen,” katanya.
Baca Juga:Hindari Dampak Abu Vulkanik Anak Gunung Krakatau, Disdikpora Cianjur Perpanjang PJJ Bagi Siswa
Ia menjelaskan, para penyuluh di Kota Bandung memiliki program pelatihan bernama Nawadahan (Ngabina Wargi Bandung Ngahadean Buruan). Melalui program itu, guru-guru dilatih budidaya tanaman mulai dari pembibitan hingga pascapanen.
“Pelatihannya bukan sehari dua hari, tetapi lima kali pertemuan, seminggu sekali, menyesuaikan pengamatan tanaman,” jelasnya.
Asep Tristian menambahkan, pembinaan tidak hanya menyasar sekolah negeri. Beberapa sekolah swasta dan SLB juga telah mengembangkan Buruan Saé. Bahkan, ada SLB di kawasan Cinambo yang telah memproduksi minuman dari tanaman rosella hasil kebunnya.
Dukungan Orang Tua dan Komite Sekolah
Terkait hambatan, Asep Ramdani menyebut dukungan orang tua justru sangat besar. Sebelum kegiatan berlangsung, sekolah mensosialisasikan program melalui komite sekolah.
Baca Juga:Jalan Sehat KAHMI, Kapolres Purwakarta Perkuat Silaturahmi dan Sinergi
“Ada orang tua yang menawarkan membawa bibit dari rumah. Kami juga meminta orang tua membiarkan anak-anak kotor saat berkegiatan di kebun,” tuturnya.
Menurutnya, pembelajaran di luar kelas membuat siswa lebih antusias karena tidak selalu berteori di dalam kelas. Siswa mengerjakan Lembar Kegiatan Peserta Didik (LKPD), mencari informasi, hingga menghadirkan ahli sebagai narasumber.
“Guru membimbing langsung. Anak-anak senang karena lebih bebas, tidak dikurung di kelas,” ujarnya.
Pangan Bukan Hanya Padi
Dalam diskusi itu, Asep Tristian menegaskan bahwa ketahanan pangan tidak hanya soal padi. Pemanfaatan lahan pekarangan untuk tanaman sayur, Toga, hingga perikanan juga menjadi bagian dari ketahanan pangan keluarga.
Baca Juga:Wakil Bupati Tasikmalaya Terima Kunjungan Tim WJIC dan BI Jawa Barat, Katakan Ini
“Pangan itu bukan hanya padi. Pemanfaatan lahan pekarangan bisa dikembangkan sebagai ketahanan pangan,” tegasnya.
Ia juga menekankan pentingnya pemetaan lahan sebelum menanam, karena setiap tanaman membutuhkan kondisi berbeda, terutama terkait paparan sinar matahari.
“Tanaman tidak mungkin ditanam di tempat yang tidak ada matahari. Harus dipilih komoditas yang cocok,” tuturnya. (**)

