Ia menegaskan bahwa slogan nasional Karang Taruna tahun 2026, yakni “Bersatu, Bergerak, dan Berdampak”, menjadi pegangan utama dalam menjalankan organisasi. Menurutnya, momentum HUT ini harus menjadi bukti bahwa Karang Taruna benar-benar ada dan aktif di setiap kelurahan dan kecamatan.
Kondisi sulit yang dihadapi Pemerintah Kota Tasikmalaya. Dampak efisiensi membuat anggaran untuk Karang Taruna tahun ini hanya sekitar Rp30 juta, jauh lebih kecil dari tahun-tahun sebelumnya.
Kita sudah teruji, dua tahun tidak dapat anggaran tapi kita tidak menjadi oposisi pemerintah. Karena sejatinya Karang Taruna adalah organisasi sosial, bagaimana kita bisa bermitra dengan pemerintah apapun keadaannya, sulit, sehat, senang kita bersama-sama Pemerintah Kota Tasikmalaya.
Baca Juga:Cegah Narkoba dan Pergaulan Bebas, Satbinmas Polres Purwakarta Edukasi Pelajar SMKN 2
Meski anggaran minim, program sosial tetap berjalan. Tahun lalu, Karang Taruna berhasil merehabilitasi rumah seorang pemuda yatim piatu yang roboh akibat bencana. Tahun ini, santunan untuk anak yatim di sekitar lokasi acara tetap dilaksanakan sebagai bentuk kepedulian.
Memasuki periode 2025-2029, Karang Taruna Tasikmalaya memfokuskan kerja pada empat isu krusial.
Pertama, kasus HIV/AIDS yang hampir mencapai 2.000 penderita di Kota Tasikmalaya. Karang Taruna telah membentuk kader peduli penyakit menular di tiap kelurahan bekerja sama dengan Dinas Kesehatan.
Kedua, persoalan sampah yang mencapai 400 ton per hari. Sebanyak 80 lebih relawan kader sampah telah dibentuk di 10 kecamatan dan dilengkapi dengan rompi, seragam, dan sarung tangan untuk siap berkolaborasi dengan Pemkot.
Ketiga, fenomena geng motor yang meresahkan. Karang Taruna mendorong pembentukan Karang Taruna RW sebagai ruang edukasi dan preventif, termasuk pendataan pengguna knalpot brong untuk ditindaklanjuti bersama Polres dan TNI.
“Keempat, penyalahgunaan narkoba. Saat ini pihaknya mendampingi tiga pecandu tramadol bekerja sama dengan BNN, satu di antaranya telah sembuh dan kembali produktif, ” jelasnya.

