Ragam  

APM Priangan Timur Gelar Nyemah Atikan Penyiaran, Dihadiri KPID dan Anggota Komisi I DPRD Prov Jabar

Menurutnya,ini tidak bisa berjalan sendiri. Kami punya tanggung jawab. Tidak cukup dibicarakan, tapi untuk dilaksanakan.

“Kami berharap forum ini menjadi langkah awal untuk melahirkan ide dan gagasan konkret untuk meningkatkan kualitas serta intensitas konten lokal,”kata Ketua APM Priangan Timur.

Ketua Tim SDM dan Peningkatan Komunikasi Publik Diskominfo Jabar, Siti Masliah Hayati, menyebut isu konten lokal sudah lama menjadi perhatian pemerintah provinsi. Penyiaran televisi hingga digital, katanya, telah mengalami transformasi besar. Regulasi harus menyesuaikan, namun tidak boleh kaku.

Baca Juga:Gercep Satreskrim Polres Purwakarta Ringkus Pelaku Tawuran, Senjata Tajam Panjang Satu Meter Diamankan

Regulasi harus berdasarkan peraturan, tapi jadi ruang, bukan sekat. Priangan Timur punya potensi besar yang belum tergarap maksimal.

Ia menekankan, identifikasi tantangan di lapangan harus dibarengi penguatan regulasi. Tanpa itu, konten lokal akan terus tertinggal.

“Kami juga mendorong transformasi digital sebagai jalan keluar. Literasi produksi konten, distribusi di platform baru, hingga kolaborasi dengan kreator muda harus dibangun. Tujuannya, terbangun komitmen bersama dalam meningkatkan konten lokal yang berdaya saing sekaligus berakar pada nilai budaya,”katanya.

Sementara itu, Ketua KPID Jawa Barat Dr. Andiyana Slamet mengungkap data yang mengkhawatirkan, dimana indeks konten budaya di penyiaran Jawa Barat paling rendah dibanding kategori lain. Kondisi ini jadi alarm bagi semua pihak, termasuk lembaga penyiaran, pemerintah, dan komunitas.

“Kegiatan ini menjadi momentum bagi Aliansi Pers Mahasiswa untuk meningkatkan konten-konten lokal,” ujar Andiyana.

Ia mengingatkan, pembuatan konten tidak boleh lepas dari value. Nilai gotong royong, kolektivitas, dan kearifan lokal harus jadi pembeda di tengah banjir konten medsos yang cenderung individualis.

“Media sosial kerap merusak value. Nilai gotong royong dan kolektivitas tergantikan oleh budaya fomo dan viral sesaat. Ini tantangan kita bersama,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *