Diky Chandra Hadiri Launching Madrasah Siyasah PD Persis Kota Tasikmalaya Tema “Berpolitik Dengan Ilmu, Bersikap Dengan Adab, Berkhidmat Dengan Amanah”

Menurut Lhutvi, ide Madrasah Siyasah sebenarnya telah muncul sejak tahun lalu, namun baru bisa direalisasikan tahun ini. Kurikulum telah disusun secara sistematis untuk beberapa pertemuan ke depan, termasuk membahas isu-isu aktual yang berkembang di masyarakat.

“Bidang Polhukam kemarin turun langsung ke lapangan bersama aparat gabungan. Pembenahannya memang cukup banyak tahapannya. Salah satunya melalui Madrasah Siyasah, kita membahas hal-hal secara komprehensif, termasuk fenomena aktual seperti kenakalan remaja dan geng motor,” jelasnya.

Pihaknya berharap ke depan semakin banyak kader Persis yang mampu berkiprah di lembaga pemerintahan maupun penyelenggara negara, sehingga bisa mewarnai kebijakan dengan nilai keislaman.

“Semoga ada kader, khususnya dari Persis, yang duduk di lembaga penyelenggara pemerintahan. Bisa lebih mewarnai, mengakomodasi keresahan umat, terlebih dengan kondisi kita sebagai kota santri,” tuturnya.

Anggota DPRD Jabar, H. Budi Mahmud Saputra, mengapresiasi inisiatif tersebut. Ia menilai pendidikan politik sangat penting bagi generasi muda agar memahami dinamika politik secara utuh.

“Ini baru di Tasik, khususnya di Persis. Kader agar memahami dan mengenal berbagai macam siyasah, khususnya perkembangan terkini. Yang sebelumnya mungkin belum tersentuh, sekarang didalami agar implementatif,” kata Budi.

Baca Juga:Jubaedi Duda Lansia Tinggal di Gubuk Reyot dan Tanpa Listrik, Belum Adanya Perhatian dari Pemerintah

Ia menekankan bahwa anak muda tidak boleh hanya menjadi objek politik, melainkan harus menjadi pelaku politik yang berakhlak dan berintegritas.

“Jangan sebatas jadi objek politik, tapi pelaku politik. Apalagi berbasis keagamaan dan akhlak yang baik,” tegasnya.

Wakil Ketua Bidang Polhukam Pemuda Persis Kota Tasikmalaya, Eman Sulaeman, menambahkan bahwa Madrasah Siyasah lahir dari keprihatinan terhadap kaderisasi politik yang selama ini sering kali hanya menjadi komoditas lima tahunan.

“Persis tidak tabu terhadap politik. Kami bukan organisasi sebagai alat, tapi akan menciptakan kader yang dicetak menjadi pemimpin. Ke depan kami tidak cuma menjadi komoditas politik, tapi melahirkan kader-kader asli,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *