“Dengan suksesnya gelaran kedua ini, Pasanggiri Jamparingan diharapkan dapat menjadi ikon wisata budaya dan sport tourism baru di Kota Tasikmalaya,”kata Diky Chandra.
Baca Juga:Fredy Kristianto Menang Lagi di PN Ciamis, Gugatan Wahyu Hidayat Tidak Dapat Diterima
Ketua Persatuan Panahan Tradisional Indonesia (Perpatri) Kota Tasikmalaya, Syahriar Fahrudin, mengatakan bahwa Pasanggiri Jamparingan tahun ini merupakan gelaran yang kedua kalinya. Sebelumnya, event serupa sukses digelar di halaman Bale Kota Tasikmalaya.
“Pasanggiri ini digelar untuk kedua kalinya, dimana Jamparingan pertama digelar di halaman Balekota. Tahun ini diikuti 80 peserta dari Tasikmalaya, Banten, Garut, Yogyakarta, Gunung Kidul, Tawang Mangu, Cirebon, dan wilayah lainnya, sebagai ajang silaturahmi,” ujar Syahriar.
Menurutnya, olahraga panahan tradisional Jamparingan memang belum begitu populer di kalangan masyarakat luas, khususnya di Kota Tasikmalaya. Namun pihaknya terus berupaya mengenalkan olahraga ini, terutama kepada generasi muda. Saat ini, Perpatri Kota Tasikmalaya juga telah bergabung dengan Komite Olahraga Masyarakat Indonesia (KORMI).
Baca Juga:Sekda Subang Buka Rapat Persiapan Seleksi Penghargaan Pegawai ASN Berprestasi 2026
Syahriar menegaskan, panahan bukan sekadar olahraga fisik. Lebih dari itu, Jamparingan merupakan salah satu warisan budaya leluhur yang harus dilestarikan. Selain melatih ketangkasan, panahan juga melatih konsentrasi, kesabaran, dan fokus.
“Panahan merupakan salah satu budaya leluhur yang harus dilestarikan. Selain olahraga, panahan juga untuk melatih konsentrasi,” jelasnya.
“Kami memiliki keinginan untuk menggelar event dengan skala yang lebih besar lagi di tahun-tahun mendatang. Namun ia mengakui adanya keterbatasan anggaran menjadi tantangan utama. Untuk itu, ia berharap ada dukungan dari berbagai pihak, baik pemerintah maupun swasta, agar kegiatan serupa dapat terus berkembang dan menjadi agenda rutin, ” tandasnya.

