Pewarta:H Amir.
Kota Tasik,Hallo Berita Online.Com- Mengusung tema “Regulasi Konten Lokal dan Masa Depan Penyiaran di Priangan Timur”, Asosiasi Pers Mahasiswa (APM) Priangan Timur menggelar kegiatan Nyemah Atikan Penyiaran yang digelar di Aula Bale Priangan Gedung Bank Indonesia Tasikmalaya, Selasa (21/04/2026).
Kegiatan tersebut tampak dihadiri oleh Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Barat Dr. Andiyana Slamet, Ketua Tim Peningkatan Sumber Daya Manusia dan Komunikasi Publik Diskominfo Jawa Barat Siti Masliah Hayati, S.I.Kom.,Wakil Wali Kota Tasikmalaya Rd. Diky Candranegara, Ketua Komisi I DPRD Provinsi Jawa Barat, Ragael Situmorang, Anggota Komisi IV DPRD Kota Tasikmalaya Habib Qasim Nurwahab serta pegiat media dan mahasiswa se-Priangan Timur.
Anggota Komisi I DPRD Jawa Barat, Rafael Situmorang, menyoroti lemahnya posisi konten lokal di media penyiaran.Ia menyebut konten lokal belum menjadi rujukan utama masyarakat, bahkan kerap ditempatkan di jam tayang tidak strategis.
Kadang konten lokal tayang jam 3 subuh. Itu bukan prime time bagaimana mau ditonton.Menurutnya, ketimpangan regulasi antara media penyiaran dan platform digital juga menjadi persoalan.
Baca Juga:Mahasiswa USB YPKP Bandung Raih Juara 1 LKCT Nasional di Universitas Udayana Bali
Penyiaran dibatasi kode etik ketat, sementara konten digital nyaris tanpa sensor, sehingga terjadi kompetisi yang tidak seimbang.
Kalau yang satu ‘dikerangkeng’, yang lain bebas, jelas tidak adil. Regulasi harus menyesuaikan.
“Konten penyiaran memiliki peran penting sebagai referensi masyarakat dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia sekaligus menjaga ketahanan nasional, khususnya dari aspek sosial budaya,”ujar Rafael Situmorang.
Ketua APM Priangan Timur, Muhamad Al Irvan Ukasah, menegaskan forum ini tidak berhenti pada diskusi regulasi.Kegiatan ini tidak sebatas membahas regulasi saja, tapi harus bergerak bersama.
Konten lokal, khususnya berbahasa Sunda, kini kalah saing di tengah arus algoritma media sosial.
“Padahal, Priangan Timur menyimpan banyak potensi budaya yang layak diangkat ke ruang digital. Persoalannya, kata dia, bagaimana memberi peluang lebih besar agar konten lokal mendapat tempat di platform penyiaran dan medsos,”ungkapnya.

