Ragam  

Ahmad Jahid: Pedagang Berharap Pemkot Tasikmalaya Tak Hanya Kejar Target Pendapatan, Tapi Benahi Ekosistem Pasar

Sepinya pasar, kata Jahid, tidak berdiri sendiri. Gempuran pasar online jadi salah satu penyebab utama. Namun faktor internal pasar juga berperan besar. Minimnya fasilitas penunjang seperti area parkir yang sempit, akses jalan yang macet dan becek saat hujan, serta pengelolaan sampah yang buruk membuat pengunjung tidak nyaman. Orang jadi enggan ke Cikurubuk. Kalah nyaman dibanding belanja online.

HIPATAS menyayangkan belum adanya langkah konkret Pemkot Tasikmalaya untuk mencari solusi. Di satu sisi pendapatan pedagang turun, di sisi lain beban retribusi justru ditambah. Jahid menilai kebijakan itu diambil sepihak tanpa kajian dampak dan dialog dengan pelaku pasar.

Sebagai upaya advokasi, HIPATAS sudah melayangkan surat audiensi ke DPRD Kota Tasikmalaya. Tujuannya membahas persoalan ini secara terbuka dan meminta Pemkot mempertimbangkan kembali kenaikan retribusi.

Intinya, kami ingin para wakil rakyat membantu kami para pedagang pasar untuk menurunkan tarif retribusi ke harga semula.

Baca Juga:HUT Bunda Ratu ke-47, Ajang Silahturahmi Keluarga Besar DPD Gemuruh Sayap Partai NasDem Purwakarta

Jika hal ini dibiarkan, saya khawatir gelombang tutup kios akan berlanjut. Pasar Cikurubuk sebagai salah satu pusat ekonomi rakyat Tasikmalaya terancam kehilangan daya hidup. Selain kehilangan mata pencaharian, kekosongan kios juga berdampak pada PAD dari sektor retribusi itu sendiri.

“Para pedagang ini berharap Pemkot tak hanya mengejar target pendapatan, tetapi juga membenahi ekosistem pasar. Perbaikan akses, penataan parkir, kebersihan, hingga promosi pasar dinilai lebih mendesak dibanding menaikkan tarif. Tanpa pembenahan, kenaikan retribusi justru kontraproduktif, “tandasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *