Diky Chandra: Apresiasi Kegiatan Warga Perum Mega Mutiara, Tampilkan Jaipongan dan Tari Tor-Tor

“Tujuannya sederhana, mempererat tali silaturahmi. Meskipun kita beda suku, beda agama, tapi di sini kita tetap satu, warga Indonesia,” ujar Agus.

Ia menyebut saat ini ada sekitar 120 warga keturunan Batak yang tinggal di Perum Mega Mutiara. Selama ini, katanya, komunikasi antarwarga sudah baik. Lewat peringatan kemerdekaan ini, kebersamaan itu ingin ditunjukkan lebih nyata.

Dari unsur Suku Sunda, panitia Asep menambahkan kegiatan ini menjadi ruang untuk menjaga kerukunan dan toleransi.

“Jaipong dan Tor-Tor sama-sama warisan budaya bangsa. Kalau ditampilkan bersama, pesannya jelas, kita berbeda tapi tetap bersatu. Itu semangat HUT RI,” kata Asep.

Acara dimulai dengan lomba karaoke lagu Perjuanagan. Namun yang paling menyita perhatian adalah penampilan kolaborasi seni.

Baca Juga:Video Kekerasan Anak Viral di Medsos, Polres Purwakarta Langsung Amankan Terduga Pelaku

Penari Jaipong dengan kebaya dan iket tampil lebih dulu, diiringi kendang dan suling. Tak lama kemudian, para penari Tor-Tor dengan ulos khas Batak maju ke panggung. Musik gondang mengiringi gerakan tangan yang dinamis. Di akhir penampilan, kedua kelompok penari berbaur dan menutup dengan salam kebangsaan, “tuturnya.

Kedekatan dan kehangatan semakin nampak pada acara Talkshow, kedua perwakilan suku mengupas tuntas dua adat budaya daerah yang berbeda, bukan untuk mencari perbedaan tapi saling menghargai dalam keberagaman dan menjadi kekayaan budaya bangsa.

Dengan semangat gotong royong, warga Mega Mutiara membuktikan bahwa perbedaan bukanlah sekat. Justru di tengah perbedaan itulah semangat kemerdekaan ke-81 RI semakin terasa hidup dan membumi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *