Kab Tasik,Hallo Berita Online.Com-
Pimpinan Daerah (PD) Pemuda Persatuan Islam (Persis) Kabupaten Tasikmalaya resmi menggelar perhelatan strategis Musyawarah Daerah (Musyda) X yang bertempat di Aula Abu Bakar Ash-Shiddiq Komplek SMA Plus Muallimin 182 Rajapolah, pada Ahad (23/8/2026).
Mengusung tema besar “Menjaga Arah, Membumikan Dakwah,” momentum konsolidasi akbar ini dihadiri secara langsung oleh 150 peserta delegasi dari berbagai Pimpinan Cabang (PC) se-Kabupaten Tasikmalaya.
Kehadiran jajaran pimpinan lintas tingkat dan tokoh publik turut memperkuat soliditas agenda ini. Secara istimewa, forum ini disaksikan langsung oleh Ketua Umum PP Pemuda Persis Ustaz Hilman Rasyid, M.Pd., yang hadir bersama Sekretaris Umum Ustaz Jajang Hidayatullah, M.Ag., dan Bendahara Umum Ustaz Apt. Malik Idris, S.Farm.
Dukungan lintas elemen juga terlihat dari kehadiran Anggota Komisi III DPRD Jawa Barat H. Budi Mahmud Saputra, S.E., jajaran PD Persis, PD Persistri, PD Pemudi Persis Kabupaten Tasikmalaya, hingga berbagai badan otonom dan sayap organisasi daerah yang meliputi PD HIMA Persis, PD HIMI Persis, PD IPP Persis, PD IPPI Persis, Laz Persis KL Kab. Tasikmalaya, Korda Sigab Persis, serta Korda Brigade Persis.
Dalam arahannya, Ketua Umum PP Pemuda Persis, Ustaz Hilman Rasyid, menekankan urgensi reorientasi gerakan pemuda agar melampaui batas-batas diskursus seremonial.
“Transformasi dakwah Pemuda Persis hari ini jangan hanya selesai berdiri di atas panggung atau mimbar-mimbar saja. Dakwah Pemuda Persis hari ini harus diterjemahkan dalam aksi yang nyata,” tegas Ustaz Hilman.
Baca Juga:Bupati Subang Hadiri Syukuran Ruas Jalan Desa Bobos-Rancadaka, Sampaikan Subang Leuncir 2027
Menurutnya, kristalisasi keimanan harus termanifestasi ke dalam bentuk praksis sosial yang membumi, sejalan dengan tema yang diusung dalam Musyda kali ini.
Semangat transformasi tersebut berpadu dengan refleksi mendalam dari Ketua Demisioner PD Pemuda Persis Kabupaten Tasikmalaya, Andri Nurkamal. Di penghujung masa baktinya, Andri menegaskan bahwa musyawarah ini memiliki makna yang jauh lebih esensial dari sekadar agenda suksesi kepemimpinan.
“Musyda ini adalah tradisi saling mewariskan, bukan tradisi saling meninggalkan. Apa yang sudah diperjuangkan oleh periode sebelumnya harus menjadi bekal berharga bagi mereka yang kelak melanjutkan perjuangan,” tuturnya.

