Di sisi lain ini juga bagian dalam pelestarian budaya , dimana ini suatu prosesi adat dimana seorang anak berbakti kepada orang tuanya, tadi juga saat di acara, siraman ini kita mendapat keharuan yang sangat luar biasa, karena di acara ini ada suatu prosesi anak membasuh kedua kaki orang tuanya. Ada kultur atau budaya yang sangat baik, di rangkaian acara siraman ini pun di ingatkan tentang ibadah sholat dan yang lainnya yang bersifat religi dan membuat kita yang terlihatnya dampak tak terasa meneteskan air mata.
Yang membuat saya salut itu sendiri yang menjadi pengatur acara kegiatan ini kuar biasa yang dalam membawakan acara ini menggunakan bahasa Sunda yang cukup baik dan paham akan susunan prosesnya seperti apa dan ini memang harus di lestarikan.
Baca Juga:Bupati Garut Tampung Aspirasi Kepala Desa dari Sukawening dan Karangtengah
Di acara ini pun ada yang unik dan sudah jarang ada di mana pada kegiatan ini ada sinden laki-laki itu kan sudah karang ditemui.
Mudah-mudahan dengan adanya pelestarian budaya, siraman ini dapat terpancing keinginan anak muda jaman now untuk dapat belajar soal hal ini. Jangan sampai budaya ini hilang.
Budaya ini adalah budaya yang positif untuk melepas anak yang akan menikah dengan doa. Anak pun meminta doa dan meminta, maaf atas segala kekhilafan nya, ini suatu hal yang sangat positif yang perlu dilestarikan
Dalam prosesi tersebut, sejumlah perangkat adat dihadirkan. Tujuh lembar samping terhampar, melambangkan tujuh lapis kehidupan yang harus dijalani dengan bijak. Bunga-bunga segar ditebar sebagai lambang kebahagiaan yang diharapkan mekar dalam rumah tangga kelak. Nampan disiapkan sebagai simbol kepasrahan diri kepada Sang Pencipta.
“Tak kalah filosofis, kendi dari tanah liat menjadi pengingat bahwa manusia diciptakan dari tanah dan akan kembali ke tanah. Sementara pelita bersumbu tujuh dinyalakan, melambangkan penerang hidup yang menuntun langkah kedua calon mempelai menuju bahtera rumah tangga, “jelasnya.

