Ragam  

Tantan Sulthon Bukhawan dan Kiprahnya Membangun Organisasi Wartawan

Bandung,Hallo Berita Online.Com-Menjadi bagian dari organisasi profesi wartawan bukan sekadar soal jabatan bagi Tantan Sulthon Bukhawan. Sebagai Sekretaris PWI Jawa Barat, ia ingin organisasi tersebut menjadi ruang bagi wartawan untuk bertumbuh, meningkatkan kompetensi, mendapat perlindungan, sekaligus memperjuangkan kesejahteraan profesi.

Pandangan itu tidak muncul begitu saja. Lebih dari dua dekade berada di dunia jurnalistik membuat Tantan melihat langsung bagaimana profesi wartawan berubah. Dari masa ketika surat kabar menjadi sumber utama informasi, hingga era digital yang membuat berita bergerak dalam hitungan detik.

Tapi, menurut Tantan, perubahan teknologi tidak boleh mengubah prinsip dasar jurnalistik.

“Platform boleh berubah, teknologi boleh berkembang, tetapi integritas wartawan tidak boleh ikut berubah,” kata Tantan.

*Tantan Sulthon Bukhawan dan perjalanan panjang di dunia jurnalistik*

Baca Juga:Diky Chandra Terima Kunjungan Dr. Bilal Orang Tasik Punya Usaha di Mekkah, Jadi Inspirasi dan Informasi

Perjalanan Tantan Sulthon Bukhawan dimulai pada 2002. Ia mengawali karier sebagai wartawan Harian Umum Mitra Dialog, salah satu surat kabar di bawah naungan Pikiran Rakyat Grup.

Tiga tahun kemudian, ia bergabung dengan Harian Seputar Indonesia (Sindo). Pengalaman di ruang redaksi membuatnya memahami bahwa kecepatan bukan satu-satunya ukuran keberhasilan seorang wartawan.

“Berita yang baik bukan yang paling cepat, tetapi yang paling dapat dipertanggungjawabkan,” ujarnya.

Dari Sindo, perjalanan profesionalnya berlanjut ke InilahKoran. Di media tersebut, Tantan melewati berbagai perubahan industri pers. Media cetak yang sebelumnya menjadi kekuatan utama perlahan harus beradaptasi dengan perkembangan digital.

Baca Juga:BAZNAS Jabar Salurkan Program Berbagi Daging Hingga Pelosok dari Zakat Pengguna BRImo untuk Masyarakat Desa Ciririp Purwakarta

Perubahan itu ikut membentuk cara pandangnya terhadap profesi.

Bagi Tantan, wartawan tidak cukup hanya mampu menulis. Wartawan harus mau mendengar, memahami persoalan, melakukan verifikasi, lalu menyampaikan informasi secara jernih kepada publik.

Prinsip tersebut pula yang membuatnya melihat profesi wartawan sebagai bentuk pengabdian.

“Saya memilih menjadi wartawan karena ingin mengenal banyak orang. Dari setiap orang, selalu ada pelajaran yang bisa dipetik. Dan melalui profesi ini, saya ingin menjadi bagian dari agen perubahan untuk kepentingan publik,” katanya.

Baca Juga:LSM Laskar NKRI DPD Subang Ajukan Surat Audiensi ke Kejari Subang, Tuntut Tindak Lanjut Laporan Pengaduan

Amanah profesional kemudian membawanya menjadi Pemimpin Redaksi InilahKoran.

Dari Pangalengan, pendidikan, hingga cara berpikir kritis

Jauh sebelum berada di ruang redaksi, Tantan tumbuh di sebuah kampung di Pangalengan, Kabupaten Bandung.Lingkungan dengan hamparan kebun teh, udara pegunungan, dan kehidupan sederhana menjadi bagian dari pengalaman awal yang membentuk karakternya.

Pendidikan formal ditempuhnya mulai dari SDN Citere, SMPN 2 Kertasari, hingga MA Baitul Arqom Bandung.

Keingintahuan kemudian membawanya masuk ke Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam, Fakultas Dakwah IAIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Baca Juga:Kasat Polairud Polres Pangandaran Imbau Masyarakat Waspada Cuaca Ekstrem Berdasarkan Informasi BMKG

Di bangku kuliah, ia mempelajari teori komunikasi. Namun, pengalaman hidup memberinya pemahaman lain. Komunikasi, menurutnya, bukan hanya kemampuan berbicara. Ada kemampuan mendengar dan memahami yang sama pentingnya.

Semangat belajar itu terus berlanjut ketika karier profesionalnya sudah berjalan.

Tantan kembali ke bangku kuliah dan menyelesaikan pendidikan magister pada program studi yang sama di UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Ia lulus dengan IPK 3,87.

Bagi Tantan, angka tersebut bukan sekadar capaian akademik.Ia melihat pendidikan sebagai proses yang tidak memiliki garis akhir.

“Kalau berhenti belajar, kita akan tertinggal oleh perubahan. Wartawan justru harus menjadi orang yang paling cepat belajar,” katanya.

Baca Juga:Diky Chandra Berikan Masukan Ke Mata Pelajar Indonesia yang Akan Gelar Stand Up Comedy

Cara berpikirnya juga banyak dipengaruhi oleh buku dan tokoh yang ia baca.

Madilog karya Tan Malaka menjadi salah satu bacaan yang membentuk cara berpikirnya. Dari karya tersebut, ia belajar mengenai pentingnya keberanian berpikir logis dan kritis.

Sementara karya-karya Buya Hamka memberinya perspektif mengenai hubungan antara ilmu dan akhlak.

Ada pula Last Call karya Elon Green yang mengingatkannya bahwa setiap peristiwa selalu memiliki sisi kemanusiaan yang tidak boleh diabaikan.

Tiga sosok kemudian sering disebut ketika Tantan berbicara tentang figur yang menginspirasinya.

Baca Juga:BRI Peduli Serahkan Bantuan Satu Unit Mobil Ambulans Ke Yonzipur 3/YW Pangalengan Kabupaten Bandung

Tan Malaka mengajarkan keberanian berpikir. Lafran Pane mengajarkan pengabdian melalui organisasi. Sedangkan Buya Hamka memperlihatkan bahwa ilmu dan akhlak seharusnya berjalan beriringan.

Pengalaman organisasi dan gagasan tentang kepemimpinan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *