Ia mencontohkan sejumlah gagasan yang tengah didorong, seperti pengembangan hutan kota dan hutan bambu yang direncanakan mulai dibangun pada 2026 dengan dukungan pembiayaan dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat, pemanfaatan aset milik pemerintah provinsi maupun kabupaten, hingga rencana pengembangan kawasan bekas Kantor Pertambangan di Kota Tasikmalaya.
Selain itu, kami pun berharap kawasan Cilembang dapat segera dimanfaatkan sebagai lokasi pertunjukan seni luar ruang (outdoor) yang tidak hanya berpotensi meningkatkan PAD, tetapi juga menggerakkan sektor ekonomi masyarakat sekitar.
Pendopo Tasikmalaya juga memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata budaya dan sejarah Kesukapuraan, baik dalam bentuk museum mini maupun diorama yang menampilkan perjalanan sejarah daerah.
Diorama bukan hanya menjadi sarana edukasi dan pelestarian sejarah, tetapi juga bisa menjadi daya tarik wisata yang memberikan manfaat ekonomi secara langsung maupun tidak langsung.
Kami juga menyoroti pentingnya memperkenalkan sejarah lokal kepada generasi muda. Ia menyebut masih banyak pelajar di Kota Tasikmalaya yang belum mengenal tokoh-tokoh penting daerah maupun sejarah perjuangan lokal.
“Masih banyak anak-anak yang belum mengetahui sosok Bestong, bahkan belum mengenal tokoh perempuan asal Tasik yang lahir sebelum R.A. Kartini dan berhasil memperjuangkan pendidikan serta melahirkan karya tulis yang sukses pada zamannya. Sejarah seperti ini perlu terus dikenalkan agar tidak hilang ditelan waktu,” pungkasnya.
Melalui gagasan pengembangan diorama dan wisata sejarah, Pemerintah Kota Tasikmalaya diharapkan mampu menghadirkan ruang edukasi yang menarik sekaligus membuka peluang baru bagi peningkatan PAD dan pelestarian budaya lokal.

