Zaki juga memaparkan bahwa dari keseluruhan potensi lahan seluas kurang lebih 40 hektare, saat ini area yang tertanami pohon alpukat baru mencapai sekitar 15 hektare. Mengingat karakter alpukat yang membutuhkan waktu cukup lama hingga panen, ia menyarankan agar sisa lahan yang belum tergarap dapat dimanfaatkan untuk tanaman tumpang sari berumur pendek guna menopang pemasukan harian petani.
Baca Juga:Bupati Subang Dampingi Menteri PKP Tinjau Bedah Rumah Dan Resmikan Rusun di Desa Gambarsari
Sementara itu, Kepala LAB BAZNAS Jabar, Agus Zaelani mengungkapkan bahwa senyum ceria para petani lahir dari rasa syukur atas kepedulian BAZNAS yang hadir tepat waktu meringankan beban operasional kelompok tani.
“Bantuan ini bukan baru kemarin diberikan, tetapi sudah beberapa bulan ke belakang. Bantuan digunakan untuk pembelian pupuk dan pembayaran buruh tani, sehingga meringankan para petani disana. Hal yang paling menarik adalah wajah ceria para petani karena dibantu BAZNAS dan bisa memanen hasil jerih payah penanaman selama bertahun.” tutur Agus.
Agus menambahkan, tantangan berikutnya yang perlu dipersiapkan adalah kedisiplinan petani dalam merawat pohon pascapanen seperti pemangkasan dan pengendalian hama serta perluasan pangsa pasar agar komoditas alpukat Batulawang dapat terjual denga harga yang kompetitif dan menguntungkan.
Melalui program perberdayaan ini, BAZNAS Jabar menegaskan komitmennya untuk terus mengawal kemandirian para petani binaan secara berkelanjutan agar roda perekonomian pedesaan terus berputar. Program ini diharapkan mampu mentransformasikan taraf hidup mustahik menjadi mandiri secara ekonomi, tumbuh menjadi munfik yang dermawan, hingga kelak tampil sebagai muzaki penunai zakat.(**)

