Aktivis PMII Pangandaran Soroti Kematian 2 Calon Manajer SPPI : Evaluasi Fundamental Lebih Penting dari Evaluasi Teknis

KDKMP Terancam Jadi “Monumen Kosong” Tanpa Arah Implementasi
Di tengah duka ini, kami juga menyoroti keberlangsungan program KDKMP secara makro. Hingga hari ini, orientasi implementasi KDKMP di lapangan masih kabur. Banyak KDKMP yang secara fisik hanya berwujud bangunan kosong tanpa kegiatan usaha riil, tanpa neraca, tanpa anggota aktif. Jika calon manajer sudah ditempa 45 hari secara militer, tapi koperasi yang akan dikelolanya belum memiliki blueprint usaha yang jelas, maka ada risiko besar: kita mencetak manajer disiplin, tapi tanpa arah gerak ekonomi. Negara harus menjawab: mau dibawa ke mana KDKMP ini?

Baca Juga:Fredy Kristianto Menang Lagi di PN Ciamis, Gugatan Wahyu Hidayat Tidak Dapat Diterima

Penutup
PMII sebagai organisasi kader yang lahir dari rahim Nahdlatul Ulama menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, disiplin, dan pengabdian. Kami mendukung penuh upaya penguatan SDM desa. Namun penguatan itu harus berangkat dari prinsip keselamatan, relevansi, dan akuntabilitas. Keselamatan 35.476 peserta lainnya adalah prioritas yang tidak bisa ditawar.

Kami mendesak:
Audit independen terhadap standar dan praktik medical check-up peserta SPPI.

Forum terbuka yang melibatkan akademisi, praktisi koperasi, dan mahasiswa untuk menguji ulang urgensi kurikulum militer bagi manajer KDKMP.
Transparansi roadmap implementasi KDKMP agar tidak berhenti sebagai proyek fisik tanpa ruh ekonomi.

Baca Juga:Aksi Peduli Sosial, BRI dan TNI Kolaborasi Renovasi Masjid Annur di Kodim 0605 Subang

“Almarhum Anisa dan Yonanda gugur sebagai bagian dari pengabdian. Tugas kita memastikan pengabdian mereka tidak sia-sia, dengan membenahi sistem agar peserta berikutnya pulang membawa ilmu, bukan peti,”kata Aktivis PMII Pangandaran, Predi Supriadi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *