Baca Juga:Plt Gubernur Riau Hadiri Syukuran Peringatan HUT Pertama Kodam XIX/Tuanku Tambusai
Karena itu, ia mendorong agar kreativitas berbasis kampung tersebut tidak berhenti pada kegiatan hiburan semata. Jika dikelola secara serius, karya-karya tersebut berpeluang berkembang menjadi konten digital yang memiliki nilai ekonomi.
Diky menilai media sosial dapat menjadi ruang baru bagi masyarakat untuk mengembangkan kreativitas sekaligus membuka peluang pendapatan.
Ia mencontohkan, masyarakat yang belum memiliki pekerjaan dapat dilibatkan dalam produksi konten dengan diberikan karakter tertentu sesuai kemampuan dan kepribadiannya.
Misalnya ada yang menganggur, kemudian memiliki karakter dalam sebuah cerita. Kalau disebarluaskan melalui media sosial, kan bisa mendapatkan pundi-pundi rupiah. Apalagi kalau sudah memiliki channel YouTube.
Sejumlah kampung lainnya juga berpotensi melakukan hal serupa. Warga dapat diberikan karakter yang menarik, lucu, maupun sesuai dengan kehidupan sehari-hari sehingga memiliki daya tarik bagi penonton.
Namun, Diky menekankan pentingnya pengelolaan yang baik agar potensi tersebut dapat berkembang secara positif.
Baca Juga:Kang Akur Buka Kejucab Lobb 2026, Ajak Pelajar Subang Asah Disiplin Dan Karakter
Beberapa kampung yang lain juga sama. Ada yang menganggur diberikan karakter yang bagus dan lucu, banyak penontonnya dan penggemarnya. Tinggal dimanajemen dengan bagus dan benar.
Diky juga mengingatkan masyarakat agar bijak dalam menggunakan media sosial. Menurutnya, media sosial memiliki dua sisi yang sangat bergantung pada siapa dan bagaimana menggunakannya.
Media sosial itu seperti pisau. Kalau dipakai sama tukang mabok, bisa berbuat negatif. Namun kalau dipakai oleh orang yang tepat, bisa menjadikan manfaat.
Baca Juga:Tantan Sulthon Menang Telak, 444 Suara Antar Nahkoda Baru PWI Jawa Barat 2026–2031
Dukungan terhadap kegiatan Karang Taruna Burujul tersebut diharapkan menjadi salah satu bentuk kolaborasi antara pemerintah, pemuda dan masyarakat dalam mengembangkan ekonomi kreatif di tingkat kampung.
“Selain menjadi wadah berekspresi, produksi film pendek berbasis masyarakat juga dapat menjadi sarana memperkuat kebersamaan sekaligus membuka peluang baru melalui ekosistem digital, “pungkasnya.

