Ia juga menegaskan komitmennya untuk menjalankan amanah dengan keterbukaan, kerja keras, dan tanggung jawab.
“Kepercayaan akan kita jaga melalui pelayanan, sedangkan reputasi akan kita bangun melalui prestasi. Mari wujudkan USB yang unggul, USB yang terhubung, USB yang berdampak,” pungkasnya.
Amanah Yayasan: Naik Kelas dan Bangun Ekosistem
Ketua Yayasan Pendidikan Keuangan dan Perbankan (YPKP), Prof. Ricky Agusiady, menyampaikan tiga poin amanah utama kepada Rektor baru, dengan inti utama, yakni membawa USB YPKP naik kelas.
“Ya, tadi yang jelas amanah yang disampaikan ada tiga poin. Tiga poin itulah yang nanti harus dijalankan oleh Prof. Diana. Intinya, Sangga Buana sekarang sudah unggul, tapi kita mau naik kelas. Bukan sekarang belum baik, tapi baik di kelasnya. Kita mau naik kelas sekarang,” ujar Prof. Ricky.
Ia menjelaskan bahwa “naik kelas” bukan sekadar predikat unggul, melainkan harus diiringi dengan outcome dan kebermanfaatan nyata.
“Unggul itu kan tidak hanya orang mencari sekolah tidak hanya melihat unggulnya, tapi outcome-nya, kebermanfaatannya. Apa yang dimanfaatkan oleh mahasiswa bisa langsung kerja, apa yang diterima oleh masyarakat sekitarnya dengan adanya keberadaan lulusan dari Sangga Buana,” jelasnya.
Menurut Prof. Ricky, tantangan terbesar adalah membawa universitas yang telah berdiri lebih dari 50 tahun dan selama ini mengandalkan budaya internal, kini berani membuka diri dan berkolaborasi dengan perguruan tinggi negeri (PTN).
“Sekarang berani membuka diri, berkolaborasi dengan PTN, supaya ini menjadikan paling tidak sejajar. Kalau sudah PTN, arahnya ke internasional. Namun, bisnis swasta ini kan mandiri, dananya mandiri. Itulah salah satu tantangan,” ungkapnya.
Rencana Rumah Sakit dan Target Jangka Pendek
Ricky juga mengungkapkan rencana strategis USB YPKP untuk membangun rumah sakit. Menurutnya, pembangunan rumah sakit bukan sekadar membangun fasilitas, tetapi membangun ekosistem yang memberikan manfaat luas.
Baca Juga:Kodim 0610/Sumedang Bersama Baznas Percepat Rehab Sebelas RTLH, Salah Satunya di Kecamatan Surian
“Kenapa membuat rumah sakit? Kita sebenarnya membangunnya bukan membangun rumah sakitnya, tapi adalah ekosistemnya. Ekosistem yang memberikan manfaat keluar. Dengan mendirinya rumah sakit, itu selesai semuanya. Untuk menjadikan manusia cerdas, ya harus sehat,” paparnya.
Ia menegaskan bahwa USB YPKP tidak akan bersaing dengan rumah sakit yang sudah ada, melainkan berkolaborasi. “Kita bermainnya bukan di zona merah, tapi di zona biru. Artinya mereka itu bahkan menjadikan partner kita dalam satu ekosistem,” tambahnya.
Saat ini, proses perizinan pembangunan rumah sakit sedang berjalan, termasuk Persetujuan Bangunan Gedung (PBG).
“Mudah-mudahan mohon doanya kalau PBG selesai, artinya kita sudah bisa meningkat ke arah penentuan investor, walaupun sudah ada calon-calonnya, penentuan kontraktor, di antaranya WIKA juga sudah masuk dari plat merah,” ujarnya.
Menyinggung target jangka pendek, Prof. Ricky berharap Prof. Diana dapat cepat belajar dan memahami organisasi.
“Dalam 100 hari kerja, dia harus bisa cepat belajar. Saya minta disampaikan di dalam pesan saya, dengarkan. Karena kita bukan merubah budaya baru, tapi meningkatkan dengan budaya baru sekarang,” tegasnya.
Ia juga menyoroti pentingnya pemetaan (mapping) untuk menentukan langkah strategis.
“Dia harus mengumpul dulu mapping-nya. Mana yang harus kita tingkatkan, mana yang harus kita pelihara, mana yang harus kita perbaiki. Tiga kompetensi itu bisa, maka dia akan mudah nanti membuat kebijakan. Amanah dari yayasan adalah menaikkan kelas,” jelasnya.
Saat ini, jumlah mahasiswa USB YPKP mencapai 6.600 pada tahun 2025. Ricky optimistis angka ini akan terus meningkat.
“Kalau saya ini sudah sampai 7 ribuan lebih. Ini kan satu modal. Kalau Prof. Diana ingin menyampaikan targetnya ke 20 ribu, itu dengan etos kerja yang sangat baik dan strategi yang baik. Kalau menurut saya, untuk stabil saja di atas 5 ribu, atas 7 ribu misalnya, atau sampai 10 ribu,” harapnya.
Prof. Diana sendiri disebut memiliki target membangun program studi (prodi) unggul dalam 1-2 tahun ke depan.
“Dengan nambah prodi unggul, inovasi kita bisa lebih baik. Akreditasi institusinya kan sudah unggul. Prodinya unggul, kita bisa bikin kelas jauh,” ujarnya.
Naturalisasi Kepemimpinan: Komitmen dan Integritas
Menanggapi kepemimpinan dari eksternal, Ricky menganalogikannya dengan naturalisasi di dunia sepak bola, seperti yang dilakukan Persib Bandung.
“Saya belajar dari Persib. PRC itu bisa jadi juara karena naturalisasi. Tapi saya tegaskan, yang tidak berubah adalah komitmen dan integritas YPKP terhadap dunia pendidikan,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa naturalisasi kepemimpinan tidak boleh lepas dari komitmen, integritas, dan kultur yang sudah dibangun.
“Dengan naturalisasi, apakah vikingnya jadi berubah? Enggak, dia bangun kok. Dengan fondasi yang kuat, dengan latihan yang profesional. Kurang lebih seperti itulah. Kita anggap ini adalah naturalisasi yang terinspirasi dari PSI,” pungkasnya.
Dengan kepemimpinan baru di bawah Prof. Diana Sari, USB YPKP diharapkan tidak hanya mempertahankan predikat unggul, tetapi juga mampu naik kelas, berkolaborasi, dan membangun ekosistem yang bermanfaat bagi masyarakat luas.

