Banyak kunjungan, dari berbagai kalangan. Itu membawa aura positif. Kita tidak pernah undang, tapi datang sendiri. Mudah-mudahan ini jadi penyemangat,” ucapnya, menyiratkan optimisme di tengah realitas yang belum sepenuhnya berpihak.
Namun, di balik nada optimistis, Diky juga menyelipkan pengingat. Ia menyinggung kondisi bencana yang masih melanda sejumlah wilayah, agar semangat pembangunan tidak menggerus empati.
Kita boleh bahagia, tapi jangan sampai mati rasa. Pemerintah tetap berjuang mengajukan bantuan untuk korban bencana.
Kepada para siswa SR Terintegrasi, kami menyampaikan pesan yang lebih personal- nyaris seperti potret hidupnya sendiri. Ia mengaku bukan berasal dari latar belakang akademik tinggi, namun tetap mampu bertahan dan berkembang.
Saya hanya lulusan SMA. Pernah jadi pengamen, debt collector, calo angkot, sampai pelayan. Tapi Tuhan adil, selalu memberi kesempatan. Jadi jangan pernah menyerah.
“Di tengah belum hadirnya bangunan fisik, SR Terintegrasi justru mulai dihidupkan oleh semangat ironi yang terasa getir, sekaligus harapan yang belum padam,”pungkasnya.

