Kandasnya Kapal Batu Bara di Pangandaran, DPRD Desak Pemda Bentuk Satgas Evakuasi ​

Pewarta:Iyut K.

Pangandaran,Hallo Berita Online. Com- Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Pangandaran, Asep Noordin, mendesak pemerintah daerah segera mengambil langkah taktis menyusul lambatnya penanganan kapal pengangkut batu bara yang kandas di perairan Pangandaran.

Asep menyarankan pembentukan Satuan Tugas (Satgas) khusus demi mempercepat evakuasi komoditas tambang tersebut yang kini mulai mengancam ekosistem laut.

​Menurut Asep, inisiatif untuk mempertemukan para pemangku kepentingan sebetulnya sudah dimulai oleh pihak legislatif. Namun, koordinasi yang berjalan dinilai belum membuahkan aksi nyata yang sigap di lapangan.

Baca Juga:Hari Koperasi Nasional Ke-79, Walikota Tasik Viman Akan Ada Revitalisasi Kawasan Bersejarah Kongres dan Monumen Koperasi

​”Pemerintah daerah harus membuat satuan gugus tugas terkait dengan percepatan penanganan persoalan batu bara ini. Sehingga nanti, baik data maupun perhitungan terhadap persoalan ekonomi dan lingkungan, bisa lebih cepat,” ujar Asep saat ditemui di depan Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan Kelas III Pangandaran, Kamis 9 Juli 2026.

​Asep menambahkan, urgensi pembentukan satgas ini kian mendesak lantaran instansi terkait masih berkutat pada urusan administratif. Dalam pertemuan terbaru, sejumlah pihak bahkan baru meminta pembaruan data dampak lingkungan kepada pemerintah daerah. Padahal, kata dia, imbauan untuk melakukan langkah antisipatif sudah disuarakan sejak sepekan lalu.

​Menurut dia, pendataan semestinya tidak hanya mencakup keluhan masyarakat yang terdampak secara langsung, melainkan juga harus menghitung kerugian ekonomi jangka panjang serta kerusakan ekosistem laut akibat paparan material tambang.

Baca Juga:Komitmen Bupati Purwakarta Om Zein: Satu per Satu Jalan Gang Mulai Diperbaiki Mulus

​Narasi Selesai, Saatnya Evakuasi

​Politikus PDI Perjuangan ini menegaskan bahwa perdebatan maupun argumen teoretis mengenai insiden ini sudah harus disudahi. Fokus utama saat ini adalah tindakan konkret untuk memindahkan muatan batu bara sebelum merusak kawasan konservasi lebih jauh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *