Menurut Asep, terdapat delapan Desa dalam satu hamparan kawasan Pertanian yang menjadi lumbung pangan di Kabupaten Pangandaran. Apabila sistem pengendalian air dapat dioptimalkan, insya Allah produktivitas Pertanian, khususnya komoditas padi, diyakini akan meningkat secara signifikan tanpa harus membuka hamparan atau lahan sawah baru.
Kita tidak harus mencetak sawah baru. Yang perlu dilakukan adalah mengoptimalkan sawah yang sudah ada melalui pengendalian tata kelola air yang baik. Persoalan Kita saat ini adalah kelebihan air saat musim hujan dan kekurangan air saat musim kemarau,”ungkapnya.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Asep menyebut terdapat tiga langkah utama yang harus dilakukan, yakni Normalisasi Sungai, Pembangunan kawasan resapan dan Tampungan air, serta optimalisasi sistem pengelolaan air secara menyeluruh.
Dari hasil pengamatan lapangan, Ia menilai Normalisasi Sungai Cise’el menjadi prioritas utama karena kondisi elevasi Sungai saat ini sudah lebih tinggi dibandingkan saluran-saluran pendukung di sekitarnya sehingga menghambat aliran air.
“Yang paling utama harus Kita lakukan adalah Normalisasi Sungai Cise’el. Saat ini elevasinya sudah lebih tinggi dibandingkan saluran- saluran anak Sungai. Ini yang menjadi salah satu penyebab utama terjadinya genangan dan banjir,”jelasnya.
Baca Juga:Wali Kota Tasikmalaya Pimpin Apel Gabungan Dirangkai Dengan Penyerahan SK Pensiun PNS TMT Juli 2026
Asep berharap program normalisasi dapat segera direalisasikan mengingat panjang bentangan Sungai yang perlu ditangani mencapai sekitar 7,8 kilometer.
“Mudah-mudahan persoalan ini bisa segera tuntas. Kita akan melakukan kajian ulang terhadap kondisi existing saat ini dan menyusun strategi serta skema pengendalian air yang tepat agar manfaatnya bisa dirasakan oleh Masyarakat, terutama para Petani,” pungkasnya.

