Tantan memandang, kedewasaan sebuah wadah profesi justru diuji dari cara mereka mengelola perbedaan tersebut.Tembok organisasi itu didirikan untuk melindungi dan menguatkan semua anggotanya, bukan malah membangun sekat- sekat eksklusif yang memisahkan.
Solusinya jelas: kembali ke meja musyawarah dengan budaya saling menghormati. Organisasi yang kokoh bukan berarti bersih dari perbedaan, melainkan yang piawai merajut perbedaan itu menjadi energi kolektif yang dahsyat. Ke depan, pintu organisasi wartawan di Jabar harus terbuka lebar secara inklusif.
Wartawan muda yang minim pengalaman harus dirangkul dan diberi ruang aman untuk bertumbuh, tanpa sedikit pun mengesampingkan jasa dan dedikasi para senior yang telah bertahun-tahun merawat fondasi profesi ini.
Merawat Cahaya Independensi Demi Kepercayaan Publik.
Pada akhirnya, marwah sebuah organisasi pers tidak ditentukan oleh berapa tua usianya atau seberapa megah gedungnya. Martabat itu lahir dari komitmen anggotanya dalam menjunjung tinggi kode etik, kejujuran, dan tanggung jawab sosial kepada masyarakat luas. Reputasi di mata publik tidak bisa dibeli dengan pencitraan; ia harus diperjuangkan lewat konsistensi produk jurnalistik yang dihasilkan setiap hari.
Membangun rumah pers yang teduh dan mandiri jelas tidak bisa mengandalkan satu atau dua orang saja. Dibutuhkan kolaborasi nyata dari banyak tangan yang memiliki frekuensi dan niat yang sama.
Tugas generasi hari ini bukan cuma numpang tinggal di dalam rumah besar bernama PWI Jawa Barat, melainkan memastikan lentera independensi di dalamnya tetap menyala terang. Selama komitmen bersama ini terjaga dengan baik, maka harapan akan lahirnya jurnalisme yang sehat, bermartabat, dan berpihak pada kepentingan publik akan selalu menemukan jalannya.(**)

