Oleh : Nanang Indrawan S,H,.M.H
Tasik,Hallo Berita Online.Com- “Bangsa yang besar bukan bangsa yang tidak pernah gagal, melainkan bangsa yang berani mengoreksi dirinya sendiri.”
Setiap tanggal 20 Mei, kita kembali mengulang sebuah kalimat yang terdengar agung:
Hari Kebangkitan Nasional.
Kita memasang bendera, mengutip pidato para pendiri bangsa, lalu mengingat kembali sejarah tentang bagaimana kesadaran kebangsaan perlahan lahir di negeri yang pernah tercerai oleh kolonialisme. Sebuah masa ketika gagasan tentang “Indonesia” bahkan belum benar-benar selesai didefinisikan, tetapi keberanian untuk bermimpi sudah tumbuh begitu besar.
Namun semakin dewasa usia republik ini, semakin terasa bahwa kebangkitan nasional belum sepenuhnya selesai. Ia seperti proyek panjang yang tertunda di tengah jalan. Kita berhasil membangun gedung-gedung tinggi, jalan-jalan besar, teknologi yang semakin cepat, tetapi pada saat yang sama, kita masih sering kehilangan arah tentang untuk apa semua itu dibangun.
Dan mungkin, pertanyaan paling penting hari ini bukan lagi: apakah Indonesia sudah maju?
Melainkan: maju ke mana?
Reformasi 1998 dahulu lahir bukan hanya dari kemarahan politik. Ia lahir dari kelelahan sejarah. Dari rakyat yang merasa negara terlalu lama berdiri jauh dari rakyatnya sendiri. Dari mahasiswa yang percaya bahwa demokrasi harus diperjuangkan, bukan diwariskan begitu saja oleh kekuasaan.
Saat itu reformasi dibayangkan sebagai pintu menuju Indonesia yang lebih sehat: hukum yang tidak tunduk pada kuasa, politik yang tidak dikendalikan ketakutan, ekonomi yang memberi kesempatan lebih adil, dan birokrasi yang melayani rakyat, bukan dirinya sendiri.
Sebagian cita-cita itu memang tercapai. Kita tidak bisa menutup mata terhadap berbagai kemajuan yang ada. Ruang kebebasan lebih terbuka. Kritik tidak lagi sepenuhnya dibungkam. Partisipasi publik tumbuh lebih luas dibanding masa lalu.
Tetapi sejarah selalu memiliki ironi.
Di tengah kebebasan yang semakin besar, kita justru mulai kehilangan kedalaman berpikir. Demokrasi tumbuh secara prosedural, tetapi belum sepenuhnya matang secara moral. Politik menjadi sangat ramai, namun sering kali miskin gagasan.
Hari ini kita menyaksikan bagaimana kekuasaan tidak lagi bekerja hanya melalui tekanan, tetapi juga melalui pencitraan. Politik lebih sibuk mengelola persepsi dibanding membangun substansi. Debat publik sering berubah menjadi kompetisi slogan. Kebenaran dikalahkan oleh algoritma. Integritas dikalahkan oleh popularitas.
Kita hidup di zaman ketika seseorang bisa terlihat paling peduli terhadap rakyat hanya karena paling sering muncul di layar.
Baca Juga:Bupati Herdiat Ungkap 250 Prestasi Ciamis di DPRD, Tegaskan Fondasi Kuat Menuju Daerah Maju
Padahal Bung Hatta pernah mengingatkan bahwa demokrasi membutuhkan watak. Bukan sekadar prosedur pemilu, melainkan kedewasaan moral dalam menjalankan kekuasaan. Tanpa etika, demokrasi hanya akan melahirkan perebutan pengaruh yang terus berulang.
Dan mungkin di titik inilah reformasi mulai mengalami krisis makna. Karena reformasi ternyata tidak otomatis melahirkan manusia-manusia yang reformis.
Kita sering berbicara tentang korupsi seolah ia hanya hidup di ruang-ruang kekuasaan. Padahal korupsi juga tumbuh dari budaya permisif yang perlahan dianggap biasa. Dari kebiasaan memaklumi ketidakjujuran kecil. Dari cara kita mengagumi kekayaan tanpa peduli bagaimana ia diperoleh.
Negara akhirnya bukan hanya dibentuk oleh para elite, tetapi juga oleh toleransi sosial terhadap penyimpangan.
Kita marah ketika melihat praktik politik transaksional, tetapi dalam keseharian masih sering mengukur manusia dari kedekatan dan kepentingan. Kita kecewa terhadap rendahnya kualitas pemimpin, tetapi terlalu sering memilih berdasarkan emosional dan identitas, bukan kapasitas dan gagasan.
Maka benar apa yang pernah disampaikan Franz Magnis-Suseno: krisis terbesar demokrasi bukan semata pada sistem, melainkan pada hilangnya etika publik.
Baca Juga:Polisi Siaga, Polres Purwakarta Perketat Pengamanan Laga Panas Persib Bandung Vs Persija Jakarta
Dan etika publik tidak runtuh dalam satu malam. Ia runtuh perlahan—saat masyarakat mulai lelah berpikir kritis, ketika intelektualitas dianggap ancaman, ketika kesabaran membaca digantikan oleh budaya potongan video 30 detik.

