Pewarta:Adas Iskandar.
Kab Garut,Hallo Berita Online.Com-Ada senyum yang dipaksakan di foto itu. Empat orang, baju hijau senada, berpose rapat di depan tembok kuning. Yang menggendong balita adalah R. Di sampingnya, sang istri yang perutnya mulai membesar karena hamil anak ketiga, dan putra sulung mereka yang bersandar manja.
Mereka terlihat seperti keluarga biasa. Tapi di balik bingkai itu, ada hari-hari yang dijalani tanpa sosok ayah di rumah.
“Semuanya berawal dari niat baik,” kata R lirih. Suaranya bergetar saat bercerita. Lima bulan lalu, hidupnya berubah. Ada masalah hukum yang datang tiba-tiba, menyeret namanya. Ia tak mau bercerita detail. “Biar proses hukum yang bicara,” ujarnya. Yang pasti, sejak itu ia harus menjalani wajib lapor tiap Senin dan Kamis.
Rumah jadi sepi. Ada kursi kosong di meja makan. Ada pekerjaan seorang ayah yang kini dikerjakan sendiri oleh istrinya.
“Kami cuma orang kecil, Pak,” ucap R, menunduk. Matanya berkaca-kaca. “Kami nggak punya kuasa. Yang kami punya cuma doa dan keyakinan kalau hukum di negeri ini masih punya hati.”
Istrinya mengusap perutnya pelan. Usia kandungannya jalan enam bulan. “Berat, tapi saya nggak boleh roboh,” katanya. “Saya punya dua anak yang lihat saya tiap hari. Satu lagi di perut yang harus saya jaga. Kalau saya menyerah, mereka belajar bahwa orang baik boleh kalah. Saya nggak mau itu.”

