Ragam  

Hajat Lembur Tradisi Adat yang Masih Dilestarikan Desa Linggamukti

Pewarta: Usup Supriatna.

Purwakarta,Hallo Berita Online.Com- Hajat Lembur merupakan tradisi adat yang masih dilestarikan oleh masyarakat Jawa Barat. Perayaan ini dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil panen atau keberkahan dalam kehidupan. Prosesi ini biasanya diiringi dengan doa bersama serta berbagai pertunjukan seni tradisional. Dengan adanya Hajat Lembur, masyarakat dapat mempererat tali persaudaraan dan memperkokoh nilai kebersamaan.

Meskipun zaman terus berkembang, tradisi Hajat Lembur tetap dijaga dengan baik. Generasi muda diajak untuk mengenal dan memahami makna di balik perayaan ini. Selain sebagai bentuk pelestarian budaya, Hajat Lembur juga menjadi daya tarik bagi wisatawan yang ingin mengenal lebih dalam tentang budaya Sunda. Oleh karena itu, keberadaannya tetap penting dalam kehidupan masyarakat setempat.

Salah satu tradisi Hajat lembur yang dilakukan masyarakat Purwakarta yaitu di Desa Linggamukti, Kecamatan Darangdan, Kabupaten Purwakarta.Melalui sebuah Hajat Bumi, Diaman acara tersebut bukan sekadar perayaan angka, melainkan suatu perwujudan nyata dari semangat kebersamaan, kekompakan, dan rasa syukur masyarakat desa.

Hajat Bumi Milangkala Desa Linggamukti terasa istimewa. Udara dipenuhi aroma harum sesaji dan hidangan khas daerah. Riuh rendah percakapan dan gelak tawa warga menggambarkan keakraban yang terjalin erat.

Baca Juga:Luar Biasa! Disdukcapil Kota Tasikmalaya Raih Penghargaan Kinerja Sangat Baik dari Kemendagri 

Di tengah hiruk-pikuk perayaan, tersirat pesan mendalam tentang sejarah dan perjuangan para leluhur. Om Zein menekankan pentingnya Hajat Bumi sebagai pengingat akan sejarah berdirinya desa, perjuangan para pendiri, dan tokoh-tokoh penting yang telah mengukir jejaknya.

Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein, memberikan apresiasi tinggi, dan mendorong agar lebih banyak desa di Purwakarta menyelenggarakan kegiatan serupa.

Om Zein juga mengajak para generasi muda untuk merenungkan bagaimana para pendahulu mereka, dengan peralatan seadanya, bergotong-royong membuka dan membangun desa ini.

“Bayangan cangkul yang membelah tanah, keringat yang membasahi dahi, dan semangat juang yang membara tergambar jelas dalam setiap cerita yang terlontar,” kata Om Zein,Rabu (20/5/2026).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *