Demi Anak dan Istri, Seorang Ayah Berjuang Mencari Keadilan

Anak sulungnya, yang masih SD, kini lebih sering diam. Sesekali ia bertanya, “Ayah kapan pulang dan bobok di rumah lagi?” Pertanyaan itu yang membuat R dan istrinya memilih terus kuat.

Baca Juga:Bupati Subang Lantik Pejabat Fungsional dan Kepala Sekolah, Jalankan Amanah Sebaik Mungkin

R tidak meminta dikasihani. Ia tidak teriak minta dibebaskan. Ia hanya minta satu hal: didengar. “Saya nggak dendam sama siapa-siapa. Saya cuma mau kebenaran. Kalau saya salah, hukum saya. Tapi kalau saya nggak salah, jangan bikin anak-istri saya nunggu tanpa kepastian,” pintanya.

Di rumah itu, dindingnya jadi saksi doa yang tak putus. Dari tetangga, datang kiriman makanan. Dari kerabat, datang pelukan. “Mereka yang bikin kami masih bisa senyum di foto,” kata sang istri.

Sebelum menutup obrolan, R menitipkan satu kalimat: “Keadilan mungkin jalannya pelan. Tapi saya percaya, dia nggak akan nyasar dari rumah orang yang sabar.”

Baca Juga:Polres Purwakarta Hadiri Kick Off SPMB 2026, Dukung Pendidikan Berkualitas dan Transparan di Jabar

Malam ini, di rumah bercat kuning itu, tiga orang akan tidur tanpa ayah. Tapi mereka tidur dengan satu harapan yang sama: besok, keadilan datang mengetuk pintu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *